Virus Korona semakin menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Segala cara dan upaya dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah untuk meminimalisasi menyebarnya Covid-19 ini. Salah satunya posko terpadu yang ada di BPBD DIJ.

JIHAN ARON VAHERA, Jogja, Radar Jogja

Badan Penanggulangan Bencana Darurat (BPBD) DIJ telah siap menjadi petugas garda depan dalam menanggulangi Covid-19. Sudah banyak kesiapsiagaan yang telah dilakukan badan ini. Rangkaian simulasi juga telah dilakukan, terkait dengan memperketat pemeriksaan bagi para petugas dan masyarakat yang masuk ke wilayah kantor BPBD DIJ.

Sesuai instruksi Gubernur Hamengku Buwono X terkait siaga virus korona, dinas kesehatan dan BPBD DIJ memiliki kontribusi yang penting. Dalam instruksi itu BPBD bertugas membuat kontijensi yaitu rencana penanganan atau kesiapsiagaan dalam menangani korona. Selain itu juga menjadi pusat koordinasi informasi.

Komandan TRC BPBD DIJ Pristiawan Buntoro mengatakan, para petugas posko terpadu memiliki fungsi yakni mengatur seluruh komunikasi dan masyarakat melalui hotline yang sudah disebarluaskan ke masyarakat. Di posko terpadu itu terdapat  Public Safety Center (PSC). Pristiawan menyebutkan PSC merupakan 911-nya dinkes dalam hal medis.

Jadi jika ada  pasien yang terindikasi Covid-19, pasien berada di rumah sakit dan harus dirujuk ke RS terstandar penanganan korona, itu menjadi tanggung jawab dinkes. Tetapi jika masyarakat berasal dari rumah kemudian menelepon melalui nomor yang tertera di hotline, menjadi tanggung jawab dari PSC yang ada di posko terpadu.

Pristiawan menyebutkan TRC dari BPBD DIJ untuk survilannya atau intelejen kesehatannya. Dengan begitu, pihak BPBD melakukan beberapa simulasi untuk mengantisipasi keluar masuknya orang di wilayah BPBD. “Karena posko terpadu kan ada di sini, jadi kami juga harus melakukan pengawasan ketat,” tutur Pristiawan kepada Radar Jogja  (15/3).

Ia menyebutkan dalam simulasi itu para petugas diberikan arahan untuk melakukan segala pengecekan sesuai prosedur. Yakni para petugas harus menggunakan alat pelindung diri dan memastikan segala keselamatan atau keamanan personel yang ditugaskan. “Itu semua yang coba kami simulasikan,”  jelasnya.

Para petugas tentu harus siap dengan segala risiko yang dialami. Jika ada telepon dari masyarakat dan perlu penjemputan ke rumah pengadu, maka para petugas harus siap melakukan penjemputan. Dalam hal ini, simulasi juga dilakukan yakni setelah melakukan rujukan pasien ke RS.

Para petugas juga diperiksa sebelum masuk wilayah kantor BPDB DIJ. “Petugas akan dicek suhu badannya dan dilakukan pendataan. Jika lebih dari 37 derajat Celcius, akan diberikan masker dan diarahkan ke ruangan khusus untuk diobservasi lebih lanjut oleh PSC,” paparnya.

Hal itu tentu untuk menjaga keamanan bagi masing-masing orang yang ada di wilayah BPBD. Dan merupakan bentuk sterilisasi yang kedua setelah para petugas juga melakukan dekontaminasi di RS. “Untuk memastikan saja bahwa petugas benar-benar sudah steril,” ujarnya.

Wilayah BPBD merupakan wilayah yang berisiko tinggi karena adanya posko terpadu. Untuk itu segala aktivitas di wilayah BPBD harus sesuai prosedur. “Akan kami terbitkan pada Senin (16/3) petunjuk laksana dan petunjuk teknisnya saat beraktivitas di komplek ini,” ujarnya.

Ia berharap posko terpadu ini dapat memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat. “Dan dapat menanggulangi Covid-19 dengan baik,” harapnya. (laz)