RADAR JOGJA – Niat baik Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima mengembalikan Keris Pangeran Diponegoro kepada Presiden Joko Widodo mendapat tanggapan beragam. Salah satunya dari trah atau keturunan Pangeran Diponegoro. Apa PANGERAN Diponegoro merupakan tokoh sentral dalam Perang Jawa. Atau dalam bahasa Belanda lebih dikenal dengan Java Oorlog. Perang besar ini juga kerab disebut dengan Perang Diponegoro dan berlangsung selama lima tahun (1825 – 1830) di Pulau Jawa atau Hindia Belanda.

Perlawanan Diponegoro ini disebut sebagai salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami Belanda semasa pendudukannya di Nusantara. Perang yang mempertemukan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Hendrik Merkus de Kock dengan penduduk Jawa pimpinan Pangeran Diponegoro.

Sejarah menyebut, Java Oorlog memakan banyak korban jiwa, penduduk Jawa yang tewas mencapai 200.000 jiwa, sementara korban tewas di pihak Belanda berjumlah 8.000 tentara Belanda dan 7.000 serdadu pribumi.

Diponegoro sebagai Pangeran berdarah biru turun berbaur dan memimpin pribumi untuk melawan Belanda pada kala itu tentu menjadi sebuah pilihan atau langkah berani, di tengah hubungan kerajaan dengan pemerintah Hindia Belanda. Terlebih legitimasi kekuasan kerajaan-kerajaan di Jawa saat itu tidak terlepas dari campur tangan Belanda.

Secara legitimasi, langkah Raja Belanda mengembalikan keris bernama Naga Siluman kepada Presiden Joko Widoso menjadi langkah yang pantas diapresiasi. Namun bagi orang-orang dekat, trah atau keturunan Pangeran Diponegoro, keaslian pusakan leluhurnya menjadi sebuah hal yang penting.

Trah Pangeran Diponegoro-pun mempertanyakan kebenaran nama keris yang diserahkan Raja Belanda kepada Jokowi baru-baru ini. “Jika itu asli, saya meyakini keris itu bernama keris Naga Sasra Karogan bukan Naga Siluman. Hal itu bisa dilihat dari ornamen atau relief yang terukir di keris tersebut,” ucap Ketua Paguyuban Trah Diponegoro yang juga Generasi Ketujuh Keturunan Diponegoro, Roni Sodewo, kemarin (12/3).

Dijelaskan, keris milik Pangeran Diponegoro itu bukan Dhapur (bentuk) Naga Siluman. Berdasarkan foto-foto yang beredar, ia meyakini kerus itu berdhapur atau memiliki bentuk Naga Sasra Karogan. Dalam tradisi Jawa, ada kebiasan menamai benda-benda khusus dengan nama atau gelar sesuai kemauan pemiliknya.

Dalam foto, kata warga Wates, Kulonprogo itu, keris tersebut tergambarkan sosok naga dengan bandan utuh sempurna. Sepemahamannya, motif atau relief naga untuk Naga Siluman hanya terlihat dari bagian leher hingga ke atas. “Mungkin jika ada data-data yang lebih lengkap bisa menipiskan perdebatan, klaim tentu masih bisa berubah,” jelasnya.

Ditambahkan, informasi terkait sejarah Pangeran Diponegoro sejauh ini juga masih sedikit yang mengambil sumber dari “Babad Diponegoro” yang ditulis sendiri oleh Diponegoro. Dalam serat Babad Diponegoro baik versi Surakarta atau Kedung Kebo sebenarnya tidak pernah disebutkan tentang Keris Naga Siluman. “Dalam Babad Diponegoro versi Surakarta dan Kedung Kebo juga tidak menyebut pusaka Keris Naga Siluman,” ucapnya.

Terkait keris yang dikembalikan Raja Belanda ke Jokowi, data atau sejarah keris Pangeran Diponegoro itu bersumber dari pendataan yang dilakukan pemerintah Belanda. Data pertama yakni kesaksian tertulis Panglima Perang Diponegoro (Sentot Prawirodirdjo). Kedua kesaksian tertulis Raden Saleh (Pelukis) dan bukti surat menyurat antara Kerajaan Belanda dengan Kantor Hinida Belanda di Batavia.

Keris bertahta emas itu telah diverifikasi oleh tim peneliti Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda. Keris tersebut telah diserahkan pemerintah Belanda kepada Presiden Joko Widodo dan kini sudah berada di Tanah Air Indonesia. (pra)