RADAR JOGJA – Seorang pasien yang mendapat perawatan di RSUP Dr Sardjito Jogja dinyatakan positif terinfeksi Coronavirus Desease 2019 (Covid-19) atau korona. Pasien berjenis kelamin laki-laki itu merupakan balita berusia tiga tahun. Diduga terinfeksi setelah melakukan kunjungan ke Depok, Jawa Barat, bersama orang tuanya.

Hal itu diungkapkan Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X saat konfrensi pers di Gedung Pracimasono, Kompleks Kepatihan, kemarin (15/3). “Ya betul (positif). Satu orang, masih anak-anak,” katanya setelah melakukan rapat koordinasi.
Dengan demikian, berdasarkan data dari seluruh rumah sakit (RS) rujukan di DIJ, jumlah pasien terindikasi virus korona yang sudah diperiksa ada 17 orang. Sebanyak 12 pasien dinyatakan negatif, dan satu orang dinyatakan positif. Sedangkan empat orang lainnya masih menunggu hasil uji laboratorium di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Adapun tujuh pasien masih mendapat perawatan.
Kendati ada kasus positif korona di DIJ, HB X belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) di daerahnya. Sebab situasi dianggap masih kondusif. “Anggapan saya, belum waktunya Jogja KLB. Ruang ekonomi masih terbuka. Kami juga belum memutuskan sekolah ditutup atau tidak,” tegasnya.
Namun penetapan status bersifat dinamis atau bisa berubah sewaktu-waktu. Tergantung dari perkembangan situasi dan keadaan di lapangan. Menurutnya, penetapan KLB membutuhkan pertimbangan matang. Sebab ada banyak sektor yang bakal terdampak. Misalnya kegiatan ekonomi masyarakat hingga pariwisata yang akan terganggu akibat skema lock down. “Kondisi kesehatan masyarakat akan dijadikan dasar. Kita jangan sampai mengambil keputusan yang terlalu ekstrem, sehingga masyarakat dirugikan,” jelasnya.
Untuk upaya antisipasi dan preventif persebaran Covid-19, Pemprov DIJ mendorong tiap kabupaten/kota untuk dapat menggandeng masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap wabah penyakit. “Kami ingin menggerakkan masyarakat untuk jadi kekuatan,” terangnya.
Juga mendorong masyarakat untuk menjaga gaya hidup sehat dan kebersihan diri. Lebih jauh HB X mengimbau masyarakat untuk tak lagi menggunakan hand sanitizer untuk membersihkan tangan. Sebab hand sanitizer tidak menangkal virus, melainkan hanya membunuh bakteri. “Berdasarkan referensi dari pakar biologi, hand sanitizer hanya akan menghalau bakteri, namun tidak menangkal virus,” jelasnya.
Pemprov DIJ juga akan menjamin pembiayaan pasien yang melakukan pemeriksaan. Saat ini pasien dalam pengawasan (PDP) hingga yang dinyatakan positif telah dibiayai oleh pusat. Namun pasien yang dinyatakan negatif atau orang dalam pemantauan (ODP) akan dibiayai oleh pemerintah daerah. “Kita sepakat (pembiayaan) dibantu pemerintah daerah. Provinsi dan kabupaten/kota siap untuk membiayai proses agar masyarakat tetap sehat,” paparnya.
Adapun untuk kegiatan Ujian Nasional (Unas) bagi Sekolah Menengah Atas/Kejuruan yang berlangsung mulai hari ini (16/03), tak akan dilakukan penundaan. Kegiatan akan dihelat sesuai jadwal. “Untuk proses belajar mengajar universitas swasta maupun negeri atau di tingkat sekolah, masih perlu pembahasan lebih lanjut dan akan diputuskan pada rapat finalisasi hari ini (kemarin, Red),” jelasnya.
Ketua DPRD DIJ Nuryadi berharap pemda dapat melakukan pendekatan secara intensif kepada masyarakat. Khususnya untuk meningkatkan pemahaman tentang Covid-19. “Karena 14 pasien yang terindikasi, mereka datang (periksa) atas inisiatif sendiri. Kami harap besok (terbentuk) tim yang bisa terjun ke bawah hingga masyarakat,” jelasnya.
Adapun balita yang dinyatakan positif korona kondisinya telah membaik. Pasien dirujuk ke RSUP Sardjito sejak Senin (9/3) dan dinyatakan positif pada Jumat (13/3). Balita itu menjadi pasien ke-49 yang diumumkan oleh pemerintah pusat. “Anak ini sudah baik. Tidak mengalami sesak napas dan demam. Sekarang tinggal batuk. Berdoa saja semoga anak ini bisa dinyatakan sembuh dari Covid-19,” kata Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan.
Pasien 49 diyakini terjangkit virus setelah menyambangi daerah endemik korona. Ke dua orang tuanya pun kini berstatus PDP, sehingga mendapatkan perawatan di ruang isolasi di RSUP Sardjito. Mereka belum menunjukkan adanya simpton atau gejala yang mengarah pada infeksi virus korona. Ke duanya tengah menunggu hasil pemeriksaan spesimen dari pusat. “Dia dari wilayah endemik (Depok). Tidak ada kunjungan luar negeri. Orang tua sudah di swab, hasilnya belum keluar,” jelasnya.

Stasiun dan Kereta Disemprot Disinfektan

Upaya pencegahan terhadap Covid-19 dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 6 Jogjakarta. Yakni dengan melakukan penyemprotan cairan disinfektan ke beberapa titik di Stasiun Lempuyangan.
Kepala PT KAI Daop 6 Eko Purwanto menyampaikan, kegiatan penyemprotan itu merupakan upaya untuk pencegahan. Selain itu juga sebagai bentuk antisipasi agar stasiun terhindar dari virus korona. “Kami menyemprot beberapa titik di Lempuyangan seperti kamar mandi, musala, toilet, tempat duduk tunggu penumpang, mesin cetak tiket, dan semua area publik di Lempuyangan,” jelas Eko kepada Radar Jogja, kemarin (15/3).
Selain penyemprotan di lokasi stasiun, penyemprotan juga dilakukan di beberapa rangkaian kereta seperti KA Prameks, KA Progo, dan sebagainya. Para petugas menyemprotkan cairan disinfektan ke tempat duduk, kamar mandi, dan bagian kaca dari kereta. “Sterilisasi akan kami lakukan secara rutin dan juga berlanjut ke Purwosari dan Solo Balapan,” ujar Eko.
Ia menyebutkan dalam upaya pencegahan, pihaknya juga meningkatkan pengawasan seperti pengecekan suhu di tempat pengecekan tiket. Selain itu, juga menambah hand sanitizer di beberapa titik di Stasiun Lempuyangan. “Untuk di dalam kereta hand sanitizer juga kami sediakan di kamar mandi,” jelasnya.
Selain upaya-upaya itu pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat sama mengkampanyekan kepada para penumpang untuk selalu hidup sehat dan bersih, menjaga imunitas badan. Dan tidak menyebarkan kepanikan. “Tidak perlu panik dan tahu apa yang harus dilakukan,” pesannya.
Dia berharap dengan adanya pencegahan-pencegahan yang dilakukan pihak stasiun dapat meminimalisasi penyebaran virus korona. Apalagi stasiun merupakan ruang publik yang selalu didatangi orang-orang dari luar daerah. “Asalkan kita semua melakukannya bersama-sama. Sadar akan kebersihan, Insya Allah nanti akan bisa bisa normal kembali,” harapnya.
Posko kesehatan (poskes) juga disediakan. Yakni selama 24 jam rutin melakukan pengecekan suhu badan calon penumpang. Jika ada indikasi ke arah Covid-19, poskes yang akan segera menangani. Nanti akan ada tindak lanjut jika benar terindikasi korona. “Alhamdulillah sampai saat ini belum ada. Kami akan selalu berkoordinasi dengan dinas kesehatan baik yang mencakup Dapo 6,” tambahnya.
Salah seorang penumpang Prameks Jogja-Solo Muhammad Fhaisal, 24, mengaku sangat mendukung kegiatan sterilisasi tersebut. Karena ia menyadari, Lempuyangan merupakan ruang publik yang pasti didatangi orang-orang dari luar daerah, bukan hanya dari Kota Jogja. “Semoga para penumpang kooperatif dan memanfaatkan fasilitas seperti hand sanitizer dengan baik,” harap mahasiswa itu.
Fhaisal juga menyebutkan dirinya merasa khawatir dengan berita-berita yang beredar terkait korona. Namun ia berusaha untuk tetap tenang dan lebih mawas diri. Yakni melakukan antisipasi seperti menggunakan masker dan membawa pencuci tangan. “Yang penting tetap sedia itu di tas,” ujarnya. (tor/cr1/laz)