RADAR JOGJA – Sampah visual berupa reklame, rontek hingga tempelan poster tak berizin belum banyak yang ditindak Pemkot Jogja. Komunitas Jogja Garuk Sampah menjadi salah satu yang konsisten melakukan aksi bersih-bersih. Mereka pun menemukan fakta mengagetkan. Apa itu?
Cuaca Kota Jogja yang hujan tak menyurutkan semangat anggota Jogja Garuk Sampah melaksanakan kegiatan rutin mereka. Bertepatan dengan peringatan Serangan Oemoem 1 Maret, Minggu (1/3), kali ini juga melibatkan komunitas sepeda. Termasuk memanfaatkan pit duwur sebagai alat menjangkau reklame yang dipasang tinggi.
Hasilnya dalam giat kali ini, dikumpulkan ratusan sampah iklan tak berijin. Itu hasil dari kerja bakti melepas sampah iklan di beberapa kampung maupun simpang lampu merah di Kota Jogja.
Koordinator Aksi, R. Arip Buwono mengatakan temuan sampah iklan dan rontek yang ditemukan itu terbanyak di wilayah Umbulharjo, kampus UKDW, dan simpang empat Lowanu. Dia menyebut, dari 14 kecamatan di Kota Jogja, hampir semua kecamatan ditemukan pelanggaran. “Ada sekitar ratusan rontek-rontek ukuran kecil sampai besar hasil dari bersih-bersih,” katanya disela acara kerja bakti.
Kebanyakan ditemukan terpasang di tiang-tiang listrik/lampu yang mepet dengan kabel PLN, bagian pohon-pohon, maupun gapura setiap perkampungan. “Masalahnya enggak dilepas lagi, seharusnya ada masanya dan melepaskan kembali,” ujarnya.
Reklame legal pun, tidak menjamin dipasang pada tempat yang ditentukan sesuai aturan. Akhirnya, baik legal maupun ilegal, materi-materi iklan itu semua menjadi sampah di ruang publik kota. Sehingga akan berdampak membahayakan bagi lingkungan sekitar baik pengguna, penjalan kaki, dan pengendara yang melintas. “Entah ada yang roboh atau copot di jalan. Karena pemasangannya lebih banyak itu nggak kuat dan goyang-goyang bisa jatuh,” jelasnya sembari menyebut yang terlibat sekitar 40 orang setiap kampung yang peduli.
Arip menjelaskan paling besar berupa poster yang ditempel di ruang publik. Mulai dari iklan penambah tinggi badan, obat haid hingga sedot WC. Juga acara-acara fun bike, acara keagamaan, sekolah-sekolah bahkan dari rontek-rontek kegiatan mahasiswa.
Kondisi itu yang menjadi keprihatinannya. Karena ternyata kelompok terpelajar, seperti mahasiswa dan pelajar banyak yang menjadi pelaku sampah visual. Dia mencontohkan, seperti kegiatan kampus-kampus yang akan menggelar konser. “Kalau dilihat dari poster yang ditempel, ada dari mahasiwa (Universitas) Atmajaya, UNY, bahkan UGM,” sesalnya.
Padahal Kota Jogja sudah memiliki Perda Nomor 2 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Reklame. Tapi sayangnya tidak punya mekanisme sanksi yang kuat bagi pemasang iklan-iklan sampah di ruang publik Jogja. “Katanya (Pemkot) sangat peduli dengan citra dan identitas kota. Tapi, kewenangan yang mereka punya tidak bisa atasi masalah yang ada,” tambahnya.
Selanjutnya sampah-sampah iklan yang terkumpul tersebut diserahkan oleh perwakilan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kompleks Balai Kota. “Kami kumpulin jadi satu dan dibentuk gunungan kita kirim ke Balai Kota,” imbuhnya.
Sementara, Kepala Satpol PP Kota Jogja, Agus Winarto mengatakan komunitas garuk sampah selama ini sudah bekerjasama dengan pihaknya. Dia mengapresiasi atas aksi positif yang dilakukan oleh para relawan selama ini. “Ini luar biasa buat relawan tanpa lelah dia terus berputar di tengah kota,” kata Agus dihubungi.
Agus menyebut bahwa iklan atau rontek-rontek yang ditemukan relawan tersebut memang tidak berizin atau ilegal. Namun pihak pemasang selalu membandel. Dia berencana akan mengemas secara serentak operasional kegiatan serupa bersama para relawan tersebut yang akan diintegrasikan dengan jajarannya di Satpol PP BKO Kecamatan. “Sanksi tindak tipiring pernah soalnya terpasang di situ. Pernah ada yang kami telepon komunikasinya minta tolong jangan dipasang sembarangan,” tambahnya.
Pihaknya mengimbau kepada penyelenggara iklan agar promosi tidak bertujuan untuk mengotori estetika Kota Jogja. “Zamannya sekarang IT kok masih melanggar,” kritik mantan Camat Umbulharjo itu. (wia/pra/by)