RADAR JOGJA -Sebagai penguatan konsep Smart City Kota Jogja, kelurahan menjadi basis ujung tombak terhadap semua sektor pekerjaan dengan basis data. Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan konsep smart city dimulai dengan data dari wilayah.

“Semuanya harus berbasis data. Setiap Lurah harus mampu mengumpulkan dan mengolah data,” kata HP di sela acara Koordinasi Tim Pelaksana Pengembangan Smart City, di Auditorium Dinas Penanaman Modan dan Perizinan Kompleks Balaikota, Rabu (4/3).

HP menjelaskan data yang ada di 45 kelurahan menjadi unit kecil satuan wilayah dari jaringan birokrasi untuk menentukan keputusan atau kebijakan. Ketika kelurahan sudah berbasis data, maka pemkot bisa melihat persoalan dari lintas sektor yang ada di Kota. “Tugas kami adalah mengolah data. Kalau kita punya data yang benar menyelesaikannya (persoalan) juga cepat,” ujarnya.

HP menambahkan kelurahan harus lengkap dalam mengolah data. Menjadikan dokumen yang menumpuk menjadi berbasis data. Data yang telah disiapkan oleh kelurahan kemudian akan diolah Dinas Komunikasi Informansi dan Persandian (Diskominfosan) Kota Jogja. Dan data yang telah diolah oleh Diskominfosan ini kemudian menjadi dasar bagi pemkot untuk mengambil kebijakan. “Semisal dalam menentukan pelatihan KMS (keluarga menuju sejahtera), harus ada dasarnya, siapa yang jadi sasarannya,” jelasnya.

Sementara, Kepala Diskominfosan Kota Jogja, Tri Hastono menuturkan penerapan roadmap smart city harus adaptif menjawab dua hal, yakni tuntutan atas kebijakan yang harus dikeluarkan dan potensi perkembangan teknologi informasi yang pesat. “Kami konsolidasikan, digital ini bukan satu-satunya menjadi smart, tapi sejauh mana ada kemanfaatan,” katanya.

Tahun ini kata dia, kota Jogja sedang memasuki tahapan kedua penerapan smart city, yakni proses internalisasi atau pengenalan kepada masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan internalisasi ini, pihaknya telah membentuk tim desiminasi informasi yang bertugas terjun ke masyarakat mensosialiasikan konsep smart city, khususnya layanan dalam Jogja Smart Service (JSS). Tim ini terdiri dari tujuh personel yang bekerja mulai sore hingga malam. “Ini masuk ke pertemuan warga tingkat RT atau RW,” pungkasnya.

Sampai hari ini, JSS telah diunduh oleh 41.066 user, dengan progres rata-rata 100-125 pengunduh setiap hari. Dia menargetkan pada 2022 konsep smart city sudah harus dioptimalisasi pada level analitik. Selama ini masih di level proporsi persentase mana yang lebih tinggi.

Sedangkan, Kepala Bidang Teknogi Informatika Diskominfosan, Suciati menambahkan penyusunan roadmap smart city sesuai Perwal Kota Jogja Nomor 100/2018. Dikatakan, sudah tertata pada roadmap tersebut yang akan ditempuh oleh pemkot melalui smart city. “Dari tahun 2018-2022 sudah ada, itu hasil dari desk masing-masing OPD,” tambahnya.

Pada tahun 2018, pihaknya sudah melakukan program smart city dan tahun 2019 tahap evaluasi masuk dalam 10 besar. “Tahun 2020 polanya berbeda tidak sekedar evaluasi tapi akan kami lihat dampaknya di masyarakat,” katanya.

Maka tahun ini pihaknya akan mengoptimalkan dengan mengambil enam program dari enam dimensi. Diantaranya smart government, smart branding, smart ekonomi, smart society, smart environment. (wia).