RADAR JOGJA – Alat deteksi dini early warning system (EWS) longsor dan tsunami di Gunungkidul yang berfungsi sangat minim.  Dari 30 unit EWS terpasang di zona rawan, hanya tiga yang berfungsi. Sementara sisanya rusak dan dua lainnya hilang.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Edy Basuki menjelaskan, EWS tersebut sebenarnya sudah dihibahkan. Sehingga, kewenangan pemeliharaan berada di masing-masing desa yang mendapatkan bantuan. ”Sampai sekarang belum ada perbaikan,” jelas Edy Minggu (23/2).

Berdasakan pendataan, penyebab kerusakan EWS diantaranya rusak akibat jadi sarang semut dan kerusakan pada aki. Selain itu motor penggerak sirine dari sinyal juga bermasalah akibat tertimbun longsor seperti yang ada di Desa Girijati, Kecamatan Purwosari. “Kami hanya bisa mengimbau agar perbaikan EWS dialokasikan menggunakan anggaran dari dana desa,” ucapnya.

Dia mengakui, EWS sangat membantu dalam kesiapsiagaan bencana. Namun, karena alat deteksi bermasalah pihaknya terus melakukan sosialisasi ke masyarakat dengan memperluas jaringan desa tangguh bencana.

“Bulan ini puncak musim penghujam. Kami minta masyarakat waspada dan mengenali tanda-tanda alam. Misalnya, bagi penduduk yang tinggal di lereng bukit jika hujan turun lebih dari dua jami, lebih baik mencari tempat aman untuk sementara waktu,” kata Edy.

Sementara itu, Sekretaris Tim SAR Korwil II Gunungkidul, Surisdiyanto mrngatakan, sisem peringatan dini tsunami di kawasan pantai selatan juga mengalami kerusakan. Total total delapan EWS tsunami yang dipasang BNPB, semua rusak karena fenomena Badai Cempaka di akhir 2017.

“Semua rusak dan sudah kami laporkan ke BNPB, tapi hingga sekarang belum ada perbaikan,” kata Surisdiyanto. (gun/bah)