RADAR JOGJA – Syok dan sedih masih menyelimuti keluarga salah satu korban meninggal susur sungai, Nur Azizah, 15, siswi kelas 8 SMPN 1 Turi. Orang-orang di sekitar tempat tinggalnya biasa memanggilnya Nur. Dia dikenal sebagai anak yang penurut dan pendiam. Selain itu, juga rajin dan tergolong siswi yang pintar di sekolah.
Subandiyah, 70, nenek korban, merasa masih tidak percaya cucu semata wayangnya meninggal dalam keadaan seperti itu. Saat mendengar ada kabar siswa SMPN 1 Turi banyak yang hanyut karena kegiatan susur sungai, ia langsung mengecek di Klinik SWA.
Saat dicek, ternyata memang benar ada Nur Azizah. Waktu itu sekitar pukul 17.00 saat Subandiyah mendengar kabar tersebut. Saat sampai di rumah sakit, ada tiga jenazah. Salah satu dari mereka adalah Nur Azizah.
Subandiyah sangat sedih melihat jenazah cucunya. Saat itu, ibunya Enruswati, 40, sedang bekerja. Saat dijemput dia tidak tahu bahwa anaknya sudah tidak bernyawa. Sesampainya di rumah tangisnya pecah.
“Saat sampai rumah, jenazah langsung dimandikan. Kemudian di salatkan dan langsung di makamkan malam itu juga,” tutur Subandiyah.
Ia menceritakan, dirinya tidak pernah menyangka akan terjadi musibah ini. Ia mengatakan, Nur berangkat ke sekolah seperti biasa. Tidak ada perubahan sikap yang terjadi pada anak itu. “Dia cuma bilang habis sekolah nanti akan langsung susur sungai,” jelasnya.
Namun di rumah Subandiyah juga sudah merasa khawatir karena cuaca sangat tidak mendukung. “Sangat tidak menyangka. Saya malamnya baru ngeloni dia saat tidur. Setiap malam pasti saya keloni,” tuturnya sambil berkaca-kaca, mencoba mengingat Nur.
Ia sangat sayang dengan cucunya. Tiap pagi selalu membuatkan sarapan untuk ibu Nur dan untuk Nur sendiri. “Kalau diingat-ingat sedih saya. Kami hidup di rumah ini hanya bertiga. Ketika Nur sudah pergi, saya belum bisa membayangkan,” ujarnya.
Nur merupakan anak yang tidak neko-neko. Dia apa adanya dan nurut. Setiap disuruh bantu-bantu di rumah, ia mau. Semisal sekolah dikasih uang jajan Rp 5 ribu, juga mau. Tidak pernah menolak atau protes.
Subandiyah mengaku sudah mengikhlaskan kepergian Nur. Ia hanya menyayangkan saja kenapa dengan cuaca yang tidak mendukung untuk susur sungai, tetapi tetap dipaksa turun. “Padahal masih ada hari esok atau kegiatan yang lain,” sesalnya.
Beberapa tetangga rumahnya juga merasa kehilangan atas perginya Nur Azizah untuk selama-lamanya. Sri Tawang dan Wantinah juga mengungkapakan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Mereka menyebut, Nur orangnya baik dan pendiam. “Dia anaknya pemalu dan sopan kalau sama orang tua. Yang jelas, kami sangat kehilangan sosok Nur,” tambah mereka. (cr1/laz/by)