Kepala Sekolah SMP N 1 Turi Tutik Nurdiana akhirnya angkat bicara terhadap tragedi susur sungai yang merenggut banyak korban jiwa siswanya. Dia mengaku tidak tahu sama sekali terhadap kegiatan susur sungai dilakukan gugus depan (Gudep) Pramuka sekolahnya itu.

Yang dia tahu, lanjut Tutik, adalah kegiatan rutin pramuka di sekolahnya. Pembina Pramuka juga tidak memberitahukan kegiatan susur sungai itu ke pihaknya. Oleh karena itu, ketika terjadi peristiwa itu ia sangat kaget dan tidak menyangka.

Tutik menambahkan, ada tujuh pendamping pramuka yang semuanya adalah guru di SMPN 1 Turi. Program susur sungai sendiri merupakan program lama saat ia belum menjadi kepala sekolah. Tutik mengaku baru 1,5 bulan menjadi kepala sekolah SMPN 1 Turi.

Menurutnya, susur sungai dinilai hal yang biasa. Mengingat anak-anak yang ikut adalah masyarakat dari Turi. “Saya kira itu biasa untuk mereka, bukan sesuatu yang khas. Hal itu terjadi di luar dugaan kami,”  ungkap Tutik di SMPN 1 Turi, kemarin (22/2).

Oleh karena itu, Tutik menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban atas terjadinya peristiwa ini. “Kami juga mendoakan semoga anak-anak yang meninggal diterima di sisi-NYA, diterima amal baiknya dan diampuni dosa-dosanya,” ujar Tutik, lirih.

Sementara itu, Ketua Kwarda Gerakan Pramuka DIJ GKR Mangkubumi yang datang ke SMPN 1 Turi mengimbau kepada para pembina untuk selalu memberikan informasi kepada kepala sekolah terkait seluruh kegiatan. Ini untuk saling mengetahui kegiatan yang ada.

Pihaknya segera meninjau terkait aturan kegiatan pada Gudep yang ada di sekolah. Selain itu  juga akan mengundang pimpinan dan pelatih untuk diedukasi terkait kebencanaan, agar lebih berhati-hati dalam memilih kegiatan di luar ruangan.

Putri sulung Sultan HB X ini memastikan, pelatihan pramuka dasar sudah didapatkan oleh seluruh pembina. “Tapi masih mau diperiksa, nanti menunggu laporan dari pihak kepolisian,” jelasnya.

Terkait sanksi, Mangkubumi belum bisa memastikan seperti apa nantinya. Ini karena masih menunggu hasil pemeriksaan oleh Polres Sleman, yang nantinya akan ditindaklanjuti oleh Dewan Kehormatan. “Untuk diberhentikan dari pembina atau kelanjutan sanksinya, nanti seperti apa belum tahu,” tambahnya.

Humas Polda DIJ Kombespol Yulianto menuturkan, pihaknya telah memeriksa enam orang yaitu pembina yang terlibat dalam susur sungai ini. Namun ia belum bisa menyimpulkan siapa yang bertanggungjawab penuh terhadap kejadian ini. “Maish dalam pemeriksaan, belum dapat disampaikan,” jelasnya.

Menurut Yuli, proses pemeriksaan tidak bisa dilakukan terburu-buru dan harus berhati-hati. Karena yang diperiksa sudah jelas statusnya dan keberadaannya. Ditanya soal penetapan tersangka, ia tidak menampiknya. “Semua bisa memungkinkan,” ungkap mantan Kapolres Sleman ini. (eno/laz)