RADAR JOGJA – Metal merupakan genre musik yang cukup digemari kalangan muda di Indonesia. Gelaran Kulonprogo Metal Fest (KPMF) menjadi bukti musik ini mulai diterima baik di kabupaten ini. Genap 11 tahun Phobia Community menjaga eksistensi musik metal di Bumi Menoreh dengan KPMF.

Suara musik cadas menghentak itu tersimak kuat dari Alun-Alun Wates (Alwa) Wates, Kulonprogo. Tangan Tony Irawan, 30, yang lebih akrab disapa Oot dan dikenal sebagai drumer grup band Enemy Inside itu “menari-nari” kesetanan. Perhatian warga pun tersita, merapat satu per satu ke sumber suara.

Panggung yang berlokasi di sisi tenggara Alun-Alun itu pun mendadak ramai. Oot tidak melewatkan kesempatan dengan mempercepat tempo hentakan dan kini diikuti suara bas dan gitar listrik yang melengking hingga memekakkan telinga dari Ories, Els dan Rego.

Suasana kian riuh saat sang vokalis Bohel bersuara. Penonton mulai larut dalam lantunan musik cadas menghentak. Mereka melompat, saling senggol hingga berbenturan satu sama lain. Sekitar 20 menit, kelima jejaka Garut yang tergabung dalam grub band Enemy Inside itu mengakhiri aksinya.

Dalam kesempatan kali ini, sejumlah lagu dari mini album Logis Canibalis bikinan grup band itu dibawakan, dan berhasil memukau penonton dalam Kulonprogo Metal Fest (KPMF) Tahun 2020.

Enemy Inside menjadi salah satu band metal yang diundang tampil dalam KPMF 2020. Tahun ini merupakan edisi IX yang dipusatkan di Alun-Alun Wates. Selain Enemy Inside, juga ada puluhan band dari sejumlah daerah. Di antaranya Kram Otak (Jogjakarta), Bleeding Infection (Purworejo), Urzud (Bandung) hingga Thunderwall (Surabaya).

Salah seorang pecinta musik metal Kulonprogo, Yoyok mengatakan, KPMF lahir dari keprihatinan sejumlah anak muda terhadap minimnya event musik metal di Kulonprogo. Tergabung dalam komunitas pecinta musik metal di Kulonprogo (Phobia Community), mereka membuat sebuah event yang diharapkan bisa rutin digelar setiap tahun. “Kami mau pentas di Kulonprogo susah. Harus ke Jogja,” keluh Yoyok.

Menurutnya, untuk mengelar KPMF saja komunitas Phobia Community harus berjuang khususnya dalam mengupayakan pendanaan, terlebih sebagian besar anggota masih pelajar setingkat SMA. “Meskipun minim dana, kami tetap tidak patah arang,” ujar pria yang juga aktif dalam grup band metal Kasedanjati itu.

Dijelaskan, KPMF kali pertama berhasil dihelat tahun 2011. Seiring perjalanan waktu menjadi agenda tahunan, anggota terus bertambah. Anggota yang sudah bekerja dan penghasilan mulai menjadi motor penggerak dalam pendanaan event KPMF.

“Sekarang hampir 80 persen dana dari panitia dan anggota, selebihnya baru bantuan temen-temen band lewat brand-nya masing-masing. Dari sponsor juga masih ada,” jelasnya.

Ditambahkan, KPMF awalnya hanya sekadar ajang berekreasi dan silaturahmi antarsesama metal head. Kini dengan event serupa juga diharapkan bisa membawa manfaat bagi masyarakat sekitar dan Kulonpogo.

“Dulu hanya hiburan, semoga event menjadi media promosi untuk Kulonpogo dan juga menjadi berkah bagi para PKL. Dengan begitu bisa ikut mengangkat perekonomian warga Kulonprogo,”  tambahnya.

Menurutnya, Phobia Community juga ingin menghapus stigma negatif terkait musik metal yang masih dianggap buruk di mata masyarakat. Metal kadang sering diidentikkan dengan biang rusuh, mabuk-mabukan dan narkotika.

KPMF digelar untuk menghapus stigma itu. “Kami melarang membawa minuman keras, senjata tajam maupun narkoba. Larangan itu berlaku bagi penonton maupun band yang tampil. Kami juga selalu ijin ke pihak yang berwajib saat menggelar event,” ujarnya.

Benar saja, Oot mengaku berbeda saat diundang dalam gelaran KPMF. Ia takjub dengan eksistensi KPMF. Hal itu cukup berbanding terbalik dengan di Garut, tempat asal band Enemy Inside yang banyak terbentur perizinan.

Menurutnya, band metal di Garut hanya bisa main di kafe-kafe, berbeda dengan di Kulonprogo seperti KPMF bisa menggelar di tempat yang besar (Alun-Alun). Stigma negatif tentang musik metal di Kulonprogo mulai luntur, dan itu bagus untuk perkembangan musik metal di Kulonprogo.

“Berbeda dengan kami di Garut, kadang masih dilihat sebelah mata. KPMF luar bisa, kami salut. Kami juga berharap masyarakat semakin memahami betul bagaimana sebenarnya musik metal,” ujarnya. (tom/laz)