Romo Gregorius Utomo, atau yang lebih akrab disapa Romo Tomo tutup usia. Pastor yang telah mengabdikan diri di Gereja HKTY Ganjuran selama 31 tahun itu, menghembuskan napas terakhirnya Sabtu (15/2) di RS Panti Rapih. Dia meninggalkan banyak hal dalam bidang lingkungan.

SITI FATIMA, Bantul, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Khidmat. Para jamaat dan pelayat saat mengikuti rangkaian penghormatan hingga prosesi pemakaman Romo Tomo di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, Bantul Minggu (16/2). Ratusan pelayat silih ganti berdatangan. Termasuk Bupati Bantul Suharsono.

Menurut Pastor Paroki HKTY Ganjuran, Romo FX Krisno Handoyo, sudah sekitar satu bulan yang lalu kesehatan Romo Tomo menurun. Bahkan dalam satu bulan, Romo Tomo harus dilarikan ke rumah sakit sebanyak dua kali. “Sesak napas, asma, bahkan sempat serangan jantung,” sebutnya.

Turunnya kondisi kesehatan Romo Tomo, bahkan membuatnya sulit bergerak. Saat berjalan pun harus dituntun. “Sekitar sebulan, kerso menggunakan pramuroki yang sudah saya tawarkan sejak setahun terakhir,” sebut Romo Kris.

Ketua Abdi Dalem Candi Ganjura Atanasius Sri Bandono menambahkan, Romo Tomo sempat menjadi tentara pelajar, ketika perang kemerdekaan. Setelah keadaan damai, cucu dari karyawan Pabrik Gula Gondang Lipuro itu melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah lulus dia lalu bekerja di Dinas Pertanian. “Lalu lanjut pendidikan di Amerika, akhirnya ingin menjadi pastor,” ujar Sri Bandono.

Terdapat dua motivasi, yang membuat Romo Tomo mengabdikan diri di Ganjuran pada 1988. Sejak kecil, Romo Tomo telah tertarik kegiatan gereja. Tapi saat mendaftarkan diri sebagai misdinar pelayan misa, dia gagal. Tapi dia tidak patah semangat. “Sudah kalau saya tidak boleh menjadi misdinar, saya mau jadi imam,” Sri Bandono menirukan Romo Tomo.

Motivasi keduanya karena pengetahuan. Sri Bandono tidak dapat mengingat betul, alasan Romo Tomo kemudian masuk seminari. Gagasan Hari Pangan Sedunia, dibawa oleh Romo Tomo sebagai salah satu ibah untuk besyukur kepada Tuhan. “Kemudian mohon berkah, petunjuk agar manusia tetap bisa melestarikan pangan sesuai kehendak Allah,” tuturnya.

Pada 1990, Revolusi Hijau yang dikampanyekan Orde Baru mulai menunjukkan kelemahan menadasar. Hal ini disasar oleh Romo Tomo. Dia menyoroti meningkatnya kerusakan lingkungan, berubahnya produksi petani, dan hilangnya kemandirian petani. “Pernah diadakan semacam kongres pangan se-Asia Tenggara. Waktu itu uskup dikumpulkan di Ganjuran. Akhirnya ada Deklarasi Ganjuran. Intinya gerakan melestarikan pertanian,” jelas Sri Bandono yang kembali terbatuk menahan haru.

Kata Sri Bandono, Deklarasi Ganjuran sempat membuat Romo Tomo memiliki banyak musuh. Sebagai seorang ahli di bidang pertanian, Romo Tomo kerap meneybut petani sebagai pihak yang sangat dirugikan. Mereka diminta menanam bibit yang ternyata rakus pupuk buatan. Karenanya tanaman padi itu rentan terhadap hama. “Ada diskusi, apakah hal tersebut sengaja direkayasa untuk mencari keuntungan lebih atau strategi lain untuk menghancurkan manusia,” tuturnya.

Ada rantai ketergantungan pemoda. Sehingga petani harus membeli bibit baru, pupuk, dan obat hama. Hal ini menjadi keprihatinan Romo Tomo. “Kalau petani kembali ke Tani Lestari cukup dengan pupuk kendang dan pupuk kompos, produk yang dipasaran menjadi tidak laku,” sebut Sri Bandono.

Sri Bandono mengatakan, Romo Tomo selalu berapi-api ketika berkotbah tentang pertanian. Romo Tomo menyebut pertanian modern adalah pertanian srigala. “Ganas dan menyerang siapa pun. Ini harus dilawan, karena hanya menguntungkan pemodal besar. Petani nggak dapet apa-apa. Keuntungan dikurangi oleh biaya produksi. Hasilnya pun tidak menyehatkan,” bebernya.

Sri Bandono mengatakan jika Romo Tomo pantas disebut sebagai Hang Ngabei. Karena Romo Tomo mengerti banyak hal. Mulai dari pertanian, politik, kesehatan, keadilan, dan musik.

Selain ahli pertanian, Romo Tomo dapat membuat tembang. Romo Tomo membuat tembang yang terinspirasi dari Hati Kudus yang dimuliakan di Candi Ganjuran. “Jadi beliau pecinta lingkungan tidak hanya pada manusia, tapi untuk siapapun dan apapun. Luar biasa dalam segala hal,” ketanya. (pra)