RADAR JOGJA – Sembilan puluh sekolah menengah pertama (SMP) negeri dan swasta di Purworejo mencanangkan gerakan Sekolah Ramah Anak. Pencanangan diikuti kepala SMP se-Purworejo yang dipusatkan di SMPN 1 Purworejo kemarin (17/2).

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sutarto mengungkapkan, kasus penganiayaan yang terjadi di SMP Muhammadiyah Butuh menjadi catatan khusus. Gerakan ini merupakan tindak lanjut dari kejadian tersebut.

“Sebenarnya setiap sekolah sudah pernah melakukan pencanangan ini. Tapi, ini untuk mempertegas kembali,” kata Sutarto.

Gerakan Sekolah Ramah Anak, menurutnya, diarahkan untuk membuat suasana nyaman, aman, dan kondusif di sekolah. Pelaksanaan di sekolah akan ditindaklanjuti dengan tata tertib dan aturan sesuai karakteristik setiap sekolah.

“Tata tertib dan aturan itu dibuat dan disesuaikan oleh sekolah masing-masing,” imbuh Sutarto.

Dijelaskan, penanganan terhadap anak-anak yang bermasalah selama ini ditangani guru bimbingan konseling (BK). Sedangkan kenyataan di lapangan menunjukkan, jumlah guru BK terbatas.

“Ada sekolah yang sama sekali tidak ada guru BK-nya. Dan, yang banyak terjadinya, dalam satu sekolah hanya ada satu guru BK,” tambahnya.

Komposisi yang ideal untuk sekolah adalah seorang guru BK setidaknya memberikan pelayanan terhadap 150 siswa. ”Itu tidak bisa berjalan baik di sekolah-sekolah yang minim guru BK sementara jumlah siswanya banyak,” kata Sutarto.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Purworejo Sukmo Widi Harwanto menegaskan, sekolah mesti bisa mendidik anak dengan baik. Senakal apapun, tegasnya, seorang anak jangan dikeluarkan dari sekolah.

“Anak nakal itu jadi tanggung jawab bersama. Tugas pendidik adalah mendidik bukan semata-mata mengajar,” kata Sukmo.

Menurutnya, pelayanan pendidikan sudah dijabarkan secara jelas dalam undang-undang. Hanya saja, praktinya di lapangan masih ada sekolah yang memilih mengeluarkan siswa saat ada anak yang bermasalah.

“Psikologis anak itu harus diperhatikan. Sampai dikeluarkan (dari sekolah) itu, dalam diri anak sebenarnya juga memunculkan permasalahan baru,” tambahnya.

Gerakan Sekolah Ramah Anak, menurut Sukmo, bisa menjadi momentum mencegah anak-anak bertindak brutal. Dia secara khusus meminta dibuat semacam analisa terkait pemicu hingga penanganan terhadap anak-anak khusus tersebut.

“Memang ada beberapa contoh anak itu bisa brutal, seperti hubungan dalam keluarganya kurang harmonis, ataupun adanya miskomunikasi antara anak dengan guru,” katanya.

Dia mengajak semua komponen sekolah mengawal gerakan tersebut. ”Sehingga kenakalan anak di dalam maupun luar sekolah bisa diminimalkan atau dihilangkan sama sekali,” tandasnya. (udi/amd/by)