RADAR JOGJA – Anggaran penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) khusus untuk kasus pasung di Kabupaten Gunungkidul dipangkas. Dana dari provinsi yang biasanya mengalir, tahun ini dihilangkan. Sehingga, pemkab hanya bisa memanfaatkan cuilan anggaran APBD kabupaten, karena harus berbagi dengan program sosial lain.

Selama ini, ODGJ dalam pasungan di wilayah Gunungkidul terbanyak se-Provinsi DIJ. Dalam hitungan angka tercatat ada 20 orang. Jumlah tersebut bisa jadi bertambah, karena ada yang ‘disembunyikan’ keluarga karena dianggap sebagai aib.

Sebaran penderita ODGJ berada di delapan kecamatan, mulai dari Panggang dua kasus, Playen tiga kasus, Nglipar dua kasus, Saptosari dua kasus, Rongkop empat kasus, Karangmojo satu kasus, Patuk dua kasus dan Kecamatan Wonosari satu kasus.

Kepala Seksi (Kasi) Bina Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gunungkidul Winarto menjelaskan anggaran penanganan ODGJ dari APBD kabupaten sekitar Rp 87 juta. Anggaran tersebut digunakan penanganan kasus pasung, penjangkauan gelandangan dan pengemis (gepeng), serta penanganan permasalahan sosial yang lain.

Guna penjangkauan ODGJ, pihaknya berharap, ke depan ada kendaraan untuk melakukan evakuasi. Menurutnya, kendaraan operasional evakuasi ODGJ sangat dibutuhkan. Jika sewaktu-waktu ada panggilan darurat, bisa langsung digunakan. Tentu ceritanya menjadi lain jika harus pinjam sana sini dan itupun belum tentu siap. ”Selama ini masih pinjam di Polres, Satpol PP dan ambulan pihak swasta,” kata Winarto Senin (17/2).

Mengenai peluang kesembuhan ODGJ, menurut dia masa depan masih terbuka asalkan mendapatkan dukungan penuh. Mulai dari anggaran, keluarga dan lingkungan sekitar. Karena ODGJ tidak bisa tidak harus terus mengonsumsi obat. “Kami juga meminta dukungan kepada masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Saptosari Sadilem mengatakan, penanganan ODGJ pasca-evakuasi tidak mudah. Setiap hari ODGJ harus mengonsumsi obat, padahal latar belakang pasien berbeda-beda. “Tidak sampai disitu, memberikan pemahaman kepada keluarga ODGJ juga sulit. Sosialisasi terus digencarkan,” kata Sandilem. (gun/bah)