Tasawuf atau sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun dhahir dan batin untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Cara itu diinterpretasikan dengan beragam laku. Salah satunya dengan menari.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Seorang gadis remaja mengenakan pakaian longgar berwarna merah muda tengah menari dengan gerakan yang melulu sama. Dia terus memutar sambil memejamkan mata. Begitu khusyuk pergelangan tangannya merenggang, membuka, lalu membumbung.
Musik pengiringnya menghentak bertambah kencang. Perputaran yang dilakukan gadis itu pun bertambah cepat. Lantunan keilahian menggema. Pertunjukan itu adalah interpretasi dari cara mereka beribadah.
Sebuah pertunjukan tari sufi dengan diiringi musik dari Anggur Maulana Rumi. Sebuah kelompok musik yang memiliki style unik bermusik. Kerap kali satu lagu membaurkan beragam genre. Pertunjukan berlangsung di Ponpes Maulana Rumi, Timbulharjo, Sewon, Bantul (8/2).
Sang gadis penari itu, Iskina Mardatik, masih belia. Usianya baru 13 tahun dan duduk di bangku kelas 6 SD. Dia tidak sendiri, ada pula Yanto. Pemuda usia 25 tahun, yang juga seorang santri.
Iskina adalah putri pertama Kuswaidi Syafi’ie, pengasuh Ponpes Maulana Rumi. Iskana mengawali ketertarikannya pada tari sufi saat ia masih duduk di bangku kelas satu SD. “Dulu ada yang menari di sini, tertarik sama gerakan dan pakainnya,” kata gadis yang akrab disapa Kakak ini.
Ketertarikan Iskana akan tari sufi membuatnya sering mencoba-coba sendiri. Iskana kecil berlatih secara sembunyi-sembunyi. “Awalnya cuma latihan di rumah, diam-diam gitu,” terang gadis yang saat ditemui sedang belajar untuk try out.
Sementara Yanto mengaku terkesima melihat penampilan Iskana. Dia kemudian tertarik untuk mempelajari tari sufi. “Awalnya melihat Kakak, bisa. Jadi termotivasi untuk ikut mencoba,” ungkapnya.
Ketika ditanya apa yang mereka rasakan saat menari, mereka kompak menjawab “Nikmat.” Lebih lanjut Iskana mengatakan, terdapat sebuah kebahagiaan saat ia menari. Kenikmatan itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. “Kalau ditanya capek, ya capek,” ujarnya bergurau.
Iskana memang mengidolakan Maulana Rumi. Katanya, karena takjub. Dikisahkan, Rumi dapat menari selama tiga hari tiga malam. Tiap menari sufi, Iskana tidak memiliki bacaan khusus. Kata dia, untuk tetap mengingat Sang Pencipta merupakan hal terpenting. Sedangkan Yanto membersamai pikirannya dengan dzikir saat menari.
Terdapat beragam filosofi dalam tari sufi. Dijelaskan Yanto, pakaian yang umum digunakan oleh penari sufi terdiri atas dua warna. Pakaian berwarna hitam di bagian dalam, sedangkan pakaian luar yang lebar berwarna putih.
Warna hitam melambangkan kemanusiaan. Tempat bagi sebuah ruang salah dan dosa. Sedangkan warna putih melambangkan keilahian. “Itu kain kafan sebenarnya,” terang pemuda yang akrab dipanggil Yayan itu.
Tapi, seiring perkembangan zaman penari sufi mulai berani mengekspresikan diri. Mereka mulai memakai pakaian berwarna-warni. “Di berbagai negara dikembangkan berbagai warna. Aku pilih warna pink karena lucu,” ujar Iskana.
Para penari sufi juga kerap menggunakan aksesori semacam kopiah. Bentuknya mengerucut panjang ke atas. “Itu menunjuk pada Sang Ilahi,” ujar Yayan.
Selain aksesori, gerakan tari sufi pun memiliki makna khusus. Di awal prosesinya, penari menunduk dalam. Selain sebagai tanda penghormatan, ternyata memiliki filosofi yang sangat feminim. “Menunduk untuk menghargai rahim ibu. Kami meringkuk seperti di dalam rahim,” jelas Yayan.
Dan, perputaran ke arah kanan merupakan representasi dari prosesi tawaf. “Selain itu sebagai bentuk perlawanan terhadap kefanaan,” tambah Yayan. (laz)