RADAR JOGJA – Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua Oktober mendatang merupakan gelaran PON tersulit dan terberat. Sebab harus menempuh jarak yang sangat jauh. Selain itu juga membutuhkan biaya yang sangat besar.
Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIJ Djoko Pekik Irianto menyebutkan, untuk memberangkatkan satu atlet biaya yang harus dikeluarkan Rp 100 juta. Dengan rincian Rp 60 juta untuk pembiayaan atlet selama mengikuti program Puslatda dan Rp 40 juta untuk keberangkatan dan akomodasi selama di Papua. Karena itu, kontingen DIJ akan ramping dan jumlah relatif kecil.”Biaya ini dipersiapkan agar atlet benar-benar siap tanding dan mampu menyumbang medali,’’ jelasnya.
Sebetulnya, besaran dana tersebut sudah dibahas KONI DIJ bersama Pemda DIJ dan juga telah disetujui dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) KONI DIJ beberapa waktu lalu. Sehingga tahun ini tidak ada atlet yang berangkat PON secara mandiri. “Kalau misal dibebankan pada anggaran KONI kabupaten/kota, nantinya malah akan membebani dan bisa mengganggu anggaran pembinaan lainnya,” tandasnya.
Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu mengatakan hari ini akan digelar pertemuan dengan KONI kabupaten dan KONI Kota Jogja terkait keputusan keberangkatan atlet ke PON. “Ini harus kami tegaskan kembali karena dari pengalaman sebelumnya ada berbagai masalah yang timbul akibat atlet mandiri ini,” katanya.
Sebanyak 141 atlet DIJ terus digembleng latihan dalam program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda). Seluruh atlet tersebut diharapkan dapat berjaya dalam gelaran bergengsi tersebut.
Djoko Pekik berharap para atlet dapat fokus dan bersungguh-sungguh dalam program Puslatda yang telah dikukuhkan beberapa waktu lalu itu.
Ketum KONI Bantul Subandrio berujar sejak awal KONI Bantul tidak menganggarkan dana untuk memberangkatkan atletnya ke ajang empat tahunan tersebut. “Kalau kami menggunakan dana untuk itu, malah justru menyalahi alokasi anggaran,” bebernya. (ard)