Di zaman milenial ini, minat pemuda Bantul untuk bertani semakin sedikit. Jika kondisi ini dibiarkan, tiga hingga lima tahun ke depan akan krisis regenerasi petani dan dikhawatirkan lahan subur langka. Itulah yang membulatkan tekad Miftahul Abdul Rahman, 30, warga Padukuhan Bibis, Timbulharjo, Sewon, Bantul, untuk bertani.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Di tepi hamparan hijau persawahan Padukuhan Bibis dan di antara puluhan kolam terpal ikan lele, Miftahul Abdul Rahma menyambut hangat Radar Jogja. Dia menunjukkan tanaman padi yang ditanam di lahan sewaan. Cukup luas, sekitar 4.500 meter persegi. Yang terbagi menjadi dua bagian.

Lalu, dia juga menunjukkan kolam-kolam ikan yang dibudidayakan. Luasnya sekitar 1.000 meter persegi. Sawah dan kolam itu memang berada di lahan sewaan tak jauh dari tempat tinggalnya.

Miftahul menceritakan, menjadi petani karena dorongan diri. Dia merasa iba, prihatin, sekaligus khawatir terhadap kondisi petani saat ini. Mayoritas petani dari lansia. Jika mereka tak beregenerasi, siapa yang akan mengelola lahan pertanian?

Miftahul tak hanya mendalami bidang pertanian tanam menanam padi dan budi daya ikan saja. Dia tergerak untuk menggali manajemen bidang argobisnis. Mulai bagaimana mengelola lahan, melakukan perawatan tanaman dan pemasaran. Semua dia susun estimasi anggaran. Sehingga petani mengetahui pasti kerugian dan harus berapa dia menjual hasil pertanian ke pasaran.

“Urusan petani bukan hanya menanam. Tapi harus tahu estimasi anggaran. Biar bisa tetap untung di tingkat petani,” tutur pria alumnus Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta lulusan 2012 ini.

Minimnya pemahaman managemen agrobisnis inilah yang menyebabkan petani kerap merugi. Apalagi hanya dijual ke tengkulak. Maka, petani tak akan punya tabungan hasil panennya. Petani hanya balik modal. Jika jenuh, lambat tahun tanah hanya akan dijual. “Itu yang terjadi pada petani saat ini,” ungkapnya.

Menurutnya, petani hanya mengandalkan tengkulak. Lantaran tidak punya tabungan untuk menggarap lahan kembali. Penghasilan yang pas-pasan inilah membuat anak-anak muda enggan melirik profesi ini.  “Jadi bukan karena faktor teknologi yang kurang canggih. Tetapi, ya lebih pada hasilnya,” ujarnya.

Dia menilai, bukan hanya prinsip yang perlu diubah. Tapi manajemen agrobisnis. Manajemen tak lepas dari peran pemerintah. Dia berandai, apabila pemerintah tergerak langsung dalam menetapkan HET  padi di kalangan petani, dia yakin petani Bantul akan makmur.

“Kenapa pemda tidak membuat BUMD di bidang agro? Kemudian punya patokan harga. Selesai panen, berapa ideal gabah petani kemudian dibeli, maka petani tidak perlu lagi menjual ke tengkulak,” pikirnya.

Selama tiga tahun bertani, dia menemukan HET penjualan beras bagi petani. Jika harga beras di tingkat petani tembus Rp 10 ribu per kg, dia yakin petani akan makmur. Jika harga jatuh di bawah hingga Rp 8 ribu per kg, maka petani hanya cukup balik modal. “Jika UMK tiap tahunnya naik, kenapa harga beras di kalangan petani tak pernah naik?,”  ungkapnya heran. (laz)