RADAR JOGJA – Malioboro menuju full pedestrian. Kawasan bisnis utama di Jogjakarta tersebut mengarah menjadi pedestrian sepenuhnya.

Hal tersebut tecermin dari pelaksanaan uji coba Malioboro semipedestrian di luar kegiatan rutin Selasa Wage yang digelar Jumat (7/2). Sebelumnya, uji coba di luar jadwal resmi digelar Selasa Pon. Kali ini dipilih Jumat.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja Windharto mengatakan, dipilihnya Jumat untuk pelaksanaan uji coba guna melihat lonjakan fluktuasi lalu lintas (lalin) mewakili weekend atau akhir pekan di luar hari libur Sabtu dan Minggu. “Biasanya arus lalu lintas menjelang akhir pekan libur padat saat sore ke malam hari,” katanya di sela memantau kawasan Malioboro.

Uji coba berlangsung sekitar dua belas jam. Sejak pukul 09.00 hingga 21.00. Kkecuali bus Trans Jogja dan kendaraan bermotor yang bersifat kedaruratan, tidak diperbolehkan melintas. Kendaraan tidak bermotor seperti becak dan andong masih diperbolehkan melintas.

Para pedagang kaki lima (PKL) juga tetap berkegiatan seperti biasa. “Supaya semua terbiasa dan bisa menerima, sehingga kebijakan yang kita luncurkan itu tidak dianggap menjadi beban baru nantinya,” ujarnya.

Dari evaluasi uji coba sebelumnya, arus penerus antara Jalan Suryatmajan dan Jalan Pajeksan dinilai berbahaya. Dua sirip jalan tersebut diberlakukan satu arah dari timur menuju barat menembus Jalan Malioboro.

Sejumlah petugas ditempatkan di titik tersebut. Namun, pengendara dinilai kurang tertib. “Kalau kita jaga terus, nggak akan berhenti. Apalagi nggak ada toleransi, kadang-kadang mereka (pengendara) langsung ngeblas gitu aja,” jelasnya.

Oleh karena itu, uji coba selanjutnya di luar Selasa Wage rencananya diberlakukan manajemen lalu lintas Jalan Suryatmajan dan Jalan Pajeksan seperti sirip-sirip jalan lainnya. Yakni, jalan lalu lintas akan ditutup tetapi bisa dilalui dua arah.

Jalan hanya bisa dilalui warga sekitar atau tamu-tamu hotel. “Kalau masuk hanya lewat dia (pengendara), nggak punya tempat berputar dan akan mundur putar balik. Karena tidak bisa tembus Jalan Malioboro,” terangnya.

Direncanakan, sekitar akhir Januari atau awal Februari dihelat uji coba ketiga di luar Selasa Wage. Langkah ini untuk melihat fluktuasi lalu lintas pada akhir pekan hari libur.

Windharto menargetkan uji coba Malioboro semipedestrian di luar Selasa Wage akan dilakukan empat sampai lima kali lagi. “Hari berikutnya akan ditambah uji coba jalan yang searah, karena ada perubahan opsi dari yang awal,” tambahnya.

Menurutnya, Dishub Kota Jogja juga menyiapkan beberapa infrastruktur secara permanen. Utamnya akses menuju kantor DPRD DIJ dan tempat parkir tambahan di Planning Gallery.

Pada dasarnya, ujar dia, dishub tidak serta merta menerapkan kebijakan baru. “Kalau kita buat serta merta serkarang nanti orang kaget. Kita bertahap saja,” ucapnya.

Tahapan Malioboro menuju pedestrian sepenuhnya didukung anggota PKL Tridharma Budiyanti. Dia menuturkan, tidak masalah jika nanti diterapkan full pedestrian di Malioboro.

Hanya saja, dia meminta ada jeda waktu untuk memberi kesempatan pedagang menata barang saat akan berjualan dan membingkar barang ketika pulang. “Kalau aku sih nggak pengaruh mau gimana. Sing penting dodolan payu dan nggak sepi,” ungkapnya.

Uji coba Malioboro semi pedestrian kemarin direspons positif masyarakat. Yanto, pengemudi becak di Malioboro, mengaku senang dengan adanya semipedestrian. ”Suasana seperti ini cocok untuk bersantai dan menghilangkan penat,” jelas laki-laki asal Klateng tersebut.

Linda Fatmala, wisatawan, juga senang dengan suasana Malioboro yang bebas kendaraan bermotor saat uji coba semipedestrian. ”Saya sebenarnya hanya ingin jalan-jalan. Tapi, kok ini sepi, tidak ada kendaraan. Tidak seperti biasanya. Ternyata ada uji coba semipedestrian lagi di hari yang berbeda. Pas gitu,” ujar perempuan asal Magelang tersebut. (wia/cr1/amd)