RADAR JOGJA – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja masih berupaya mencari solusi untuk siswa di SDN Bangunrejo 2. Termasuk mengkaji kemungkinan pemindahan sementara kegiatan belajar mengajar (KBM).

Sekretaris Disdik Kota Jogja, Dedi Budiono mengatakan, dalam proses pembelajaran membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai. Pun harus ada standar minimalnya, meski itu hanya proses tambahan belajar. “Ini kita masih rapat. Kami tanya dulu dengan OPD terkait apa kudu disewakke,” ujarnya dihubungi, Jumat (7/2).

Opsi-opsi yang akan ditawarkan misalnya dengan memindah proses tambahan belajar siswa kelas 6 di bangunan gedung yang layak. Disiapkan opsi salah satunya di gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), UPT Disdik di Jalan Batikan dan Jalan Gayam. Merupakan gedung pendidikan nonformal yang biasanya dipakai untuk kegiatan belajar dari siang hingga sore. “Kalau pagi tidak digunakan, tapi masalahnya lokasinya kejauhan,” jelasnya.

Disdik masih berupaya mencarikan solusi terbaik untuk melayani 81 siswa, yang 69 siswa di antaranya merupakan penyandang disabilitas slow leaner, tuna grahita, tuna daksa, dan tuna rungu. “Kami carilah solusi yang terbaik karena harus perhitungan waktu, efisiensi, efektikitas dan juga capaian kompetensi anak-anak supaya tercapai,” tuturnya.

Terkait rencana regrouping dengan SDN Bangunrejo 1, dinilainya juga bukan solusi yang tepat. Karena SDN Bangunrejo 2 merupakan sekolah inklusi. Sedang SDN Bangunrejo 1 sekolah reguler. Hal ini akan berkaitan dengan pola dan kecepatan belajar mereka. “Ya kami coba cari solusi, nanti sekaligus penyelesaiannya jangan sampai berlarut-larut,” imbuhnya.

Anggota Forum Pemantau Independen Kota Jogja Baharudin Kamba menyesalkan lambannya respon Pemkot Jogja terkait kasus di SDN Bangunrejo 2. Persoalan ini baru diketahui pascasidang lanjutan kasus suap saluran air hujan di Jalan Soepomo. Seperti diketahui, batalnya renovasi SDN Bangunrejo 2 karena KPK mengindikasikan terdakwa Eka Safitra diduga ikut mengintervensi panitia lelang hingga Dinas PUPKP Kota Jogja. “Apakah sebelumnya tidak diketahui jika renovasi SDN Bangunrejo 2 tertunda,” ujarnya setengah bertanya.

Apalagi, lanjut Kamba, kondisi itu ternyata sudah berlangsung selama setahun. Dampaknya juga dirasakan para siswa. Bahkan siswa kelas 6, yang akan menghadapi ujian nasional harus belajar di pos kamling. “Ketika ramai dibicarakan baru direspon,” keluhnya.

Dia pun meminta ada solusi segera mengatasi kondisi tersebut. “Masak di kota pendidikan terjadi hal seperti ini,” sindirnya. (wia/pra)