RADAR JOGJA – Aksi kekerasan jalanan atau klithih masih terus terjadi. Kali ini kembali menimpa pengemudi ojek online (ojol). Lokasinya di Jalan Kabupaten Sleman, Senin dinihari (3/2) lalu. Padahal, dua hari sebelumnya juga terjadi kasus serupa di jalan ini, dan korbannya juga ojol.

Korban kali ini atas nama Pendiyanto, 24, warga Padukuhan Dondong, Jetis, Saptosari, Gunungkidul. Akibat sabetan pedang oleh orang tidak dikenal itu, korban mengalami luka cukup serius di lengan tangan kanannya. Ia pun harus dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan 17 jahitan.

Pendiyanto mengungkapkan, peristiwa penganiayaan itu  terjadi saat ia bersama tiga temannya melintas di Jalan Kabupaten Sleman menggunakan sepeda motor. Sampai di lokasi kejadian, dari arah berlawanan muncul dua orang tidak dikenal berboncengan dengan kendaraan roda dua.

Salah seorang dari mereka menghunus pedang. Lalu, mengayunkan senjata tajam itu mengarah kepada korban. Sejurus kemudian, baik kendaraan yang ditumpangi korban maupun pelaku sama-sama terjatuh. Namun, pelaku lantas melarikan diri, sementara korban terluka pada bagian lengan tangan kanan.

Tanpa pikir panjang, rekan korban berinisiatif mencari rumah sakit dan mengabaikan para pelaku klithih. Hasil pemeriksaan medis, lengan tangan kanan korban robek dan harus mendapatkan 17 jahitan. “Tulang lengan atas saya juga retak karena tersabet pedang itu,” kata Pendiyanto saat ditemui Radar Jogja di rumahnya, Kamis (6/2).

Pasca kejadian, ia mengaku praktis tidak bisa bekerja. Dia harus istirahat dan rutin melakukan pemeriksaan lanjutan. Meski menjadi korban kejahatan, pihaknya mengaku tidak berniat untuk melapor ke polisi. “Saya ikhlas. Harapan ke depan, kejadian serupa tidak terulang supaya Jogja aman,” ucapnya.

Sementara itu, Dukuh Dondong Wagirin mengaku prihatin atas kejadian yang dialami salah seorang warganya. Dari keluarga besar mengaku tidak mau memperpanjang kasus, namun di sisi lain kesulitan biaya pengobatan. “Selama ini sudah mengabiskan Rp 2,5 juta menggunakan uang pribadi,” katanya.

Lalu, setiap tiga hari sekali wajib kontrol ke rumah sakit. Dia berharap kepada pihak terkait agar turut membantu persoalan ini, karena BPJS Kesehatan tidak dapat digunakan. Pembiayaan tidak masuk dalam daftar klaim. “Terlebih keluarga korban ekonominya pas-pasan,” ungkap Wagirin.

Siswi SD dan SMP,

Larikan Motor Tetangga

Keinginan memiliki motor tak mampu diwujudkan orang tua, membuat anak berinisial C, 14, nekat melarikan motor tetangganya. Memanfaatkan kelalaian korban, motor curian dipakai berkeliling bersama temannya yang berinisial B, 13.

Kejadian bermula pada Selasa (4/12) sekitar pukul 16.30. Saat itu korban lalai mencabut kunci motor ketika memarkir kendaraannya di wilayah Ledok Tukangan, Danurejan, Kota Jogja. Saat hendak menggunakan motornya, korban mendapati kunci motornya telah hilang. “Tanpa rasa curiga, korban kembali  ke rumah untuk mengambil kunci serep dan lanjut pergi untuk membantu persiapan jualan gudeg,” jelas Kapolsek Danurejan Kompol Etty Haryanti Kamis (6/2).

Sesampainya di lokasi tujuan yakni wilayah Danurejan, korban kembali memarkirkan kendaraannya. Namun selang 15 menit saat korban kembali ke parkiran, motornya telah raib. “Diduga kunci motor yang hilang di Ledok Tukangan diambil oleh pelaku, kemudian pelaku mengambil motor di lokasi lain,” jelas Kanit Rekrim Polsek Danurejan Aiptu Nugroho Jatmiko. Korban pun segera melapor ke polisi.

Reskrim Polsek Danurejan segera melakukan pengungkapan kasus curanmor itu. Tak butuh sehari, para pelaku berhasil ditangkap di Gang Mugiharjo, Danurejan, saat mengendarai motor curiannya. Para pelaku berasal dari keluarga bermasalah dengan kemampuan ekonomi rendah.

Orang tua C memiliki permasalahan keluarga, sehingga harus pisah rumah. Sedangkan B dirawat sendiri oleh bapaknya yang berprofesi sebagai sopir bus. Keduanya  seorang pelajar. C adalah siswi kelas 3 SMP, dan B adalah siswi kelas 5 SD.

“Pelaku dari keluarga broken home, sehingga kurang perhatian orang tua. Sempat minta dibelikan motor bapaknya, tapi bisa tidak dipenuhi karena keterbatasan ekonomi. Begitu ada kesempatan melihat motor diparkir, mereka tergerak untuk mengambil,” terangnya.

Berdasarkan keterangan pelaku, keduanya mengaku hanya berniat meminjam motor tetangganya untuk jalan-jalan. Namun saat ingin mengembalikan, mereka merasa takut. “Pengakuannya begitu. Untuk nomor polisi kendaraan juga tidak diganti, motor juga tidak diubah-ubah,” tambahnya.

Kompol Etty mengimbau kepada para orang tua untuk tak lalai dalam mengawasi anaknya. Sebab kasus ini cukup memprihatinkan, di mana terdapat seorang anak yang melakukan tindak pidana. “Kalau tidak diawasi bisa rawan terjadinya kejahatan jalanan yang dilakukan anak dan remaja. Orang tua harus mengkondisikan anaknya agar tidak melakukan tindak pidana,” tegasnya.

Saat ini Badan Permasyarakatan (Bapas) dan LBH tengah melakukan pendampingan selama proses hukum berlangsung. Karena pelakunya masih anak-anak, maka tak dilakukan penahanan. Mereka diserahkan kepada orang tua masing-masing. “Dikenai wajib lapor Senin dan Kamis menunggu proses diversi,” jelasnya.

Pelaku saat ini juga masih bersekolah. Etty berharap, setelah menerima bimbingan dari Bapas, para pelaku bisa tetap  bersekolah. “Jagan sampai mereka nglokro karena masih anak-anak. Semoga masa depan cerah depan bisa lebih baik,” jelasnya.

Penasihat Hukum Anak LBH Sembada Sapto Nugroho Wusono mengatakan, pelaku dikenai Pasal 363 KUHP 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Karena pelaku masih di bawah umur, penyidikan perkara dilakukan sesuai UU Sistem Peradilan Anak. “Pengenaan ancaman di bawah tujuh tahun, sehingga kemungkinan besar dilakukan diversi,” tuturnya. (gun/tor/laz)