Dwi Wantara, staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, ternyata punya kesibukan lain. Dia tergugah untuk ikut menyelesaikan persoalan sampah. Sampai-sampai Dwi mendirikan sekolah pengelolaan sampah, namanya Ringas Trengginas. Lokasinya di kediamannya, Padukuhan Palem, Baturetno, Banguntapan, Bantul.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Sampah perlu jadi fokus penanganan. Jika tidak, volume sampah yang semakin besar akan menjadi persoalan tersendiri. Mengerikan dan dampaknya bisa menimbulkan bencana.
Bantul berada di kawasan hilir. Di musim hujan tiga tahun belakangan ini, terjadi banjir. Faktor terbesar karena sampah yang menyumbat dari hulu ke hilir.
“Yang paling memprihatinkan lagi, tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Piyungan kian overload. Bagaimana ke depan dan di mana buang sampahnya?,” ungkap Dwi Wantara, 53, saat disambangi Radar Jogja (26/1).
Hal itu yang membuka hatinya. Sebelum akhirnya membuka Sekolah Sampah Ringas Trengginas, dia lebih dulu bereksperimen. Mulai eksperimen sejak 2003. Mulai dari memilah sampah hingga menghasilkan pupuk kompos berbasis sampah alam. Saat itu dia masih berdinas menjadi staf di Kesbangpol Bantul.
Pada 2017 lalu dia dipindah tugas di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul. Dari itu dia semakin yakin bahwa tidak ada sampah yang tidak mampu diselesaikan. Eksperimen pengelolaan sampah pun semakin gencar hingga merambah pengelolaan barang bekas (barkas) bernilai seni.
Terbukti di sepanjang halaman rumahnya yang tak seberapa luas itu penuh barang bekas, drum penampung, mesin pencacah plastik, dan aneka macam kreasi sampah dan barang bekas. Jiwa kreatifnya melekat kuat.
Saat masuk di halamannya itu, di berbagai sudut halaman dijumpai hiasan instalasi seni. Tepat di teras rumahnya, berderet jam tangan bekas terbingkai dengan indah. Di sisi timur berdiri robot dari komponen onderdil mesin. Mundur selangkah, menengok ke barat, sekilas kincir angin pengatur oksigen pada kolam ikan.
“Kincir air ini terbuat dari barang bekas. Kincirnya dari susunan sendok plastik,” bebernya. Jika mesin itu hidup, stik yang melekat di komponen itu dengan sendirinya menabuh bekas kaleng dan menimbulkan bunyi.
Nah, gubuk sampah yang dia bangun itu menjadi tempat yang nyaman bagi Dwi untuk bereksperimen. Dia mengelola sampah plastik menjadi batako untuk dinding dan lantai. Mengelola sterofoam bekas jadi ubin berbobot enteng. Dia membuat lampu hias berbahan dasar plastik hingga kaca.
Awal 2018, seketika dia dimutasi di BPBD, dia semakin yakin. Eksperimennya itu dapat mengedukasi masyarakat. Persoalan sampah tak dapat diselesaikan sendiri. Melainkan butuh gerakan. Kemudian muncul ide membuat sekolah sampah itu. “Harapannya semua masyarakat tergerak mengolah sampah, mulai dari sampah rumah tangga,” ungkapnya.
Tak berhenti pada pengelolaan, dia juga bekerjasama dengan perusahaan industri pipa paralon. Sampah-sampah yang sudah dikelola menjadi cacahan plastik ini disetorkan ke perusahaan industri itu. Juga bekerjasama dengan Kelompok Rapel, pengelola aplikasi online distribusi sampah. Aplikasi ini persis Gojek. Bedanya, yang diantar jemput ini berwujud sampah.
Masyarakat dapat memilah sampah kemudian dijual di aplikasi ini. Nilai sampah sudah tertera sesuai jenisnya. “Semakin baik dalam mengelompokkan sampah, semakin tinggi nilainya,” ujar Dwi.
Ia bertekad mengajak banyak orang agar sadar sampah. Sampah bukanlah momok. Sampah memiliki nilai ekonomis. Upaya yang Dwi lakukan dengan merangkul warga di sekitarnya.
Ya, di beberapa RT sudah mulai tergerak. Terlebih sosialisasi semakin digiatkan. Sosialisasi juga merambah ke kepala sekolah ataupun guru-guru TK. Dwi mengajak mereka bersama-sama menyelesaikan sampah. Mengajak anak-anak TK sadar memilah sampah sejak dini. “Kegiatan menyasar TK sudah mulai. Kami akan lakukan di 502 TK se-Kabupaten Bantul,” tuturnya.

Dengan begitu, Dwi semakin yakin dan optimistis apabila kesadaran memilah sampah dilakukan sejak dini, maka upaya penyelesaian sampah akan teratasi. Meski pun itu bukan hal yang mudah dilakukan. Selama bisa bergerak bersama, hal sulit pun akan jadi ringan. (laz)