RADAR JOGJA – Melestarikan atau nguri-uri budaya Jawa dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti menggelar lomba literasi aksara Jawa tingkat nasional yang diselenggarakan Pura Pakualaman Jogja untuk memperingati berdirinya ke-214 tahun kemarin (27/1).
Lomba diadakan di Akper Notokusumo yang dibagi menjadi tiga kategori, yaitu untuk pelajar SD, SMP, dan SMA. Koordinator acara lomba ini R.Ng Citropanambang menyebutkan, lomba bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai budaya Jawa, khususnya aksara Jawa ke anak muda.
Selain itu, lomba juga untuk menanamkan budi pekerti luhur untuk anak-anak. “Sesuai dengan tema dari lomba yaitu Wignya Indriya Gapuraning Budi,” ujar Citropanambang di sela acara.
Ia menjelaskan yang membedakan lomba itu dengan yang lain adalah, di lomba ini terdapat tambahan berupa mewarnai wedono dan membuat wedono. Wedono adalah iluminasi atau gambar yang membingkai suatu teks.
Adanya wedono di lomba tersebut terinspirasi dari naskah-naskah atau manuskrip yang ada di Pakualaman. “Kemudian itu yang dijadikan sebagai brand di lomba literasi aksara Jawa ini,” katanya.
Untuk kategori SD, para siswa hanya dituntut untuk alih aksara dari latin ke Jawa dan sebaliknya, kemudian diberi waktu dua jam. Untuk SMP, peserta dituntut juga mewarnai iluminasi yang sudah disediakan panitia. Dan untuk siswa SMA, dituntut membuat gambar iluminasi sesuai isi atau konteks dari teks yang yang dikerjakan.
Jumlah peserta SD sebanyak 46 siswa, SMP 56 peserta, dan SMA/SMK 132 peserta. Durasi dari lomba untuk SD dua jam, sedangkan SMP dan SMA/SMK tiga jam. Aspek penilaian lomba dilihat dari ketepatan dan keindahan kreasi anak-anak.
Dia berharap adanya lomba ini anak-anak senantiasa tidak melupakan budaya Jawa. Selain itu mereka juga menjadi lebih mencintai aksara Jawa. Tidak hanya dilomba saja, tetapi juga di kehidupan sehari-hari. “Ketika di jalan ada tulisan aksara Jawa, mereka akan tahu dan bisa membacanya,” jelasnya.
Seorang peserta lomba, Anastasya Sahasika Devi, 11, dari SD Giriwungu, Imogiri, mengaku senang adanya lomba ini. Dia dari kecil memang sudah mencintai aksara Jawa. Dengan adanya lomba, merasa bakatnya dapat tersalurkan. “Semoga aksara Jawa tetap lestari. Kalau bukan kita yang melesatarikan, siapa lagi,” kata siswa kelas 6 SD ini. (cr1/laz)