RADAR JOGJA – Permasalahan tidak mengalirnya air dari Selokan Mataram ke lahan pertanian di wilayah Kalasan, berakhir. Itu karena sejak Kamis (23/1) sudah mulai teraliri air.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono menjelaskan, pihaknya telah memanggil kelompok budidaya ikan (Pokdakan) yang diduga melalukan sabotase. Sehingga mengakibatkan air tidak mengalir ke Selokan Mataram untuk mengairi persawahan.

DP3 Sleman telah mengecek selokan dari Karangtalun ke timur pos pengamatan. Diduga, ada dua titik yang menjadi masalah. “Di Grojogan, sebelah timur RS Hermina dan Sombomerten,” ungkap Heru kemarin (24/1).
Meskipun pokdakan mengakui adanya sabotase, DP2 Sleman tidak diambilnya jalur hukum dalam perkara ini. Namun lebih ke pendekatan sosial. Pihaknya justru memberikan bantuan sumur, pompa, serta tanggul agar ikan masih bisa dibudidayakan. Hal ini dilakukan agar air tetap mengalir di Selokan Mataram untuk waktu yang panjang. “Dan kejadian serupa tidak akan terjadi,’’ tegasnya.
Nah, jika nanti para petani ikan ingin mengambil air Selokan Mataram, harus melalui pengajuan yang bersifat legal. DP3 juga akan melakukan koordinasi dengan petugas penyuluh lapangan (PPL) dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) untuk mengawasi penggunaan air. “Pengamanan akan diperketat. Termasuk agar masyarakat yang menduplikat kunci pintu air tidak seenaknya h membuka dan menutup,” tambah Heru.
Ketua Forum Petani Kalasan Janu Riyanto mengungkapkan air telah mengalir setinggi lutut. Bersama dengan petani lainnya, selokan yang dipenuhi sampah sudah dibersihkan.
Dia berharap semua pihak mulai dari petani lahan pangan, petani ikan, DP3, dan BBWSSO bisa menjaga Selokan Mataram bisa mengalir sepanjang tahun secara terus-menerus. “Jika ditemukan penutupan pintu air secaa ilegal, harus diberikan sanksi tegas,” harap Janu. (eno/din/by)