Ratusan umat Kelenteng Poncowinatan atau Kelenteng Tjen Ling Kiong menggelar tumpengan bersama. Tepat setelah upacara sembahyang bersama atau dua hari menjelang perayaan Tahun Baru Imlek kemarin (23/1).

SEVTIA EKA NOVARITA, Jogja, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Selama upacara, umat Khonghucu memanjatkan doa untuk menyambut Tahun Baru Imlek. Dengan harapan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan sejahtera.

Usai berdoa, tumpengan pun dilakukan. Dilanjutkan dengan ramah tamah. Tumpengan adalah tradisi Jawa yang memiliki sebuah makna. Yaitu manusia yang akrab dengan sesamanya, akan bisa mengumpulkan rezeki setinggi gunung.

Sedangkan makan tumpeng bersama, dengan tumpeng yang telah dipotong melambangkan keakraban. “Ini kolaborasi budaya Tionghoa dan Jawa,” tutur tokoh Khonghucu WS Adjie Chandra di Kelenteng Poncowinatan.

Setelah itu, pada tanggal 24 bulan 12 Imlek, tepat satu minggu sebelum perayaan, umat Khonghucu telah membersihkan rumah dan mempersiapkan Imlek. Bagi umat Konghucu, tanggal itu disebut sebagai hari persaudaraan. Yang mana hari diperuntukkan untuk berzakat.

Orang Khonghucu yang mampu akan menyisihkan sebagian miliknya dengan membagikan sembako kepada saudara yang lebih menbutuhkan. Satu hari menjelang Imlek, yakni sore nanti (24/1), umat Khonghucu wajib sembahyang di rumah masing-masing. “Mereka menyiapkan altar di atasnya untuk ditaruh sesaji. Foto leluhur dipasang untuk mengenang dan menghormati leluhur yang tiada,” ungkap Adjie.

Dikatakan, Imlek sebaiknya dimaknai dengan introspeksi diri dengan apa yang telah dilakukan. Serta berjanji untuk apa yang akan dilakukan. Selain itu perayaan Imlek juga untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Mengingat Indonesia adalah negara dengan multikultur dan multietnis. (laz)