RADAR JOGJA – Sistem bioflok dalam budi daya ikan ternyata dikembangkan berbagai pihak. Termasuk Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang Sri Hartini menjelaskan, saat ini pihaknya sedang mengembangkan teknologi bioflok tersebut. Sistem ini dinilai lebih efektif untuk meningkatkan produktivitas. Sampai saat ini setidaknya ada tujuh tempat yang berhasil menerapkan teknologi ini.

Bioflok adalah kumpulan dari berbagai organisme baik bakteri, jamur, protozoa, ataupun algae yang tergabung dalam sebuah gumpalan (floc). Bioflok ini berasal dari kata bios yang artinya kehidupan dan floc yang berarti gumpalan.

Dalam budidaya perikanan, gumpalan-gumpalan bahan organik ini nantinya menjadi pakan bagi komoditas yang dibudidayakan. Khusus budidaya lele, pembuatan flok memanfaatkan limbah ikan lele itu. Dengan penumbuhan mikroorganisme, limbah budi daya menjadi ramah lingkungan dan dapat dijadikan pakan.

Di Kabupaten Magelang, ada beberapa tempat yang telah menerapkan teknologi ini untuk budi daya ikan. “Pesantren sudah empat di Tempuran. Lalu ada juga di Tlogobeder, Seminari, dan SMA Taruna Nusantara,” jelasnya.

Saat ini jenis ikan yang paling banyak didominasi adalah lele dan nila. “Gurami agak jarang karena lama dipanen,” jelasnya.

Produksi ikan di Kabupaten Magelang cukup tinggi dibanding daerah lain. Namun, tingkat konsumsi ikannya masih sangat rendah. “Tingkat konsumsi masih rendah, 19,05 kilogram per kapita per tahun,” jelasnya. (asa/amd)