RADAR JOGJA – RIS, sengaja menutup wajahnya dengan rambutnya saat sorot kamera wartawan mengarah kepadanya. Dengan tangan terborgol, perempuan asal Sanden, Bantul ini berusaha menutupi wajahnya sepanjang sesi jumpa pers di Mapolres Sleman, Rabu (22/1).

Ya, RIS yang masih berusia 22 tahun dan mengaku pengangguran ini adalah satu di antara delapan tersangka pengedar narkoba yang beroperasi di wilayah Sleman yang ditangkap jajaran Polres Sleman. Mereka ditengarai merupakan jaringan besar pengedar obat-obatan terlarang yang menyasar para anak muda.

Kasatresbarkoba Polres Sleman AKP Andhyka Doni Hendrawan mengungkapkan, selain RIS, yang ditangkap adalah RS,25, IC,25, NR,24 MI,19, AJ,26, RD,25, dan AY,18. Pengungkapan dilakukan secara bertahap. Bermula dari penangkapan RS di lokasi ekspedisi barang di Kotagede pada 6 Januari lalu.

Penyelidikan berkembang. Hingga kemudian pada hari yang sama berhasil menangkap RIS, IC dan NR di Sanden, Bantul. Kemudian pada 8 Januari polisi kembali menangkap empat tersangka berinisial MI, AJ, dan RD di Triharjo, Sleman. “Serta tersangka terakhir, AY kami tangkap di Dukuh, Gamping, Sleman,” ujar Andhyka di Mapolres Sleman Rabu (22/1).

Dari penangkapan ini disita 7.059 butir pil. Rinciannya pil Trihex 6.860 butir, 157 pil kamlet serta 42 butir pil Arpazolam.

Para tersangka mendapatkan barang haram tersebut dari Jakarta, yang dipesan melalui jaringan online dan dikirim melalui ekspedisi. Rencananya, pil ini akan dijual ke Sleman dengan target pembeli anak muda dan masyarakat kelas ekonomi ke bawah.

Adapun cara pemasaran obat terlarang ini adalah dengan cara diecer dalam kemasan plastik kecil. Satu plastik berisi 10 butir pil. Kemudian dijual secara cash on delivery (COD). Diperkirakan jaringan pengedar narkoba ini sudah beroprasi di Sleman selama satu tahun.  “Motifnya ekonomi. Karena kebanyakan tersangka hanya pengangguran,” ujarnya.

Atas kejahatan yang dilakukan, kedelapan tersangka ini dijerat pasal berlapis. Yakni UU Kesehatan No.36/2009 pasal 196 dan pasal 197 serta dengan UU Psikotropika UU No.5/1997 pasal 62 dan 60 ayat 5. Dengan ancaman kurungan penjara paling lama 15 tahun.

RS mengaku menjual obat-obatan terlarang guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pria asal Sagan ini mengatakan, barang haram tersebut dia pesan dari temannya melalui jejaring online.”Saya dapatnya lewat online. Saya jualnya per satu plastik isi 10 butir, Rp 30 ribu,” ungkapnya.(inu/din)