RADAR JOGJA – Pada awal tahun ini Balai Pengelolaan Terminal dan Perparkiran (BPTP) Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ mulai memberlakukan tariff prakir progresif. Untuk sejumlah tempat parkir dan terminal yang dikelolanya. Sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) No. 1/2020 yang mulai diterapkan sejak Senin (20/1) lalu.

Kepala BPTP Dishub DIJ Arief Rachman Hakim mengatakan, pada Jumat (17/1) pihaknya memperoleh perintah dari Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Aset DIJ untuk mulai menerapkan tarif parkir baru berdasarkan Perda tersebut. “Lalu Senin (20/1) tarif parkir sudah diberlakukan, kami langsung membuat tiket baru,” jelas Arief di kantornya Selasa (21/1).
Beberapa Minggu lalu, Arief mengaku telah melakukan sosialisasi terkait pemberlakuan Perda tersebut. Sosialisasi dilakukan pada komunitas, paguyuban, kru, dan masyarakat sekitar sekitar tempat parkir dan terminal. “Bahwasanya nanti akan ada Perda yang mengatur retribusi parkir, tapi tetap masih ada masyarakat yang belum tahu. Pelan-pelan akan terus kami sosialisasikan” jelasnya.
Terpisah Kepala Biro Hukum Setprov DIJ Dewo Isnu Broto juga memastikan Perda tersebut sudah mulai berlaku. Menurut dia, pembahasan bersama DPRD DIJ sudah dilakukan pada 2019. Tapi pengundangannya terhambat proses evaluasi di Kementrian Dalam Negeri. “Itu perda yang dibahas 2019, bukan yang masuk Propemperda (program pembentukan perda) di 2020 ini,” jelasnya.
Sebelumya, tarif parkir mengacu pada Perda DIJ No. 4/2016 tentang Retribusi Jasa Usaha parkir. Untuk sepeda motor dekenai tarif Rp 1.000 dan Rp 2.000 untuk kendaraan roda empat. Untuk Perda baru tarifnya Rp 2.000 untuk motor dan Rp. 4.000 untuk mobil.
Selain itu, di kawasan zona satu atau kawasan dengan aktifitas ekonomi tinggi diberlakukan tarif parkir progresif. Sehingga biaya parkir dihitung per-jamnya. Tarif tiap jam dihitung dari setengah biaya parkir kendaraan. “Misalnya motor bayar parkir Rp 2.000 jadi tiap jamnya bayar Rp 1.000. Kalau dulu tarifnya flat,” jelasnya. Sedangkan untuk tarif bus Arief belum menginformasikan lebih rinci. “Di Perda, tarif (bus) lebih rendah daripada tarif sebelumnya,” lanjutnya.
Dia menjelaskan, kawasan zona satu adalah parkiran di Bandara Adisucipto dan Jalan Beskalan Malioboro. Zona dua berada di terminal Jombor. Sedangkan zona tiga ada di Terminal Wates. Untuk zona dua dan tiga tidak diberlakukan tarif parkir progresif. “Pakai tarif progresif karena tempat parkiran swasta juga banyak yang menggunakan agar tidak kalah saing,” jelasnya.
Selain itu, saat ini semua kendaraan yang memasuki terminal mulai berbayar. Ini dilakukan guna mempermudah penjagaan ketertiban dan keteraturan kendaraan di area terminal. Sebelumnya, BPTP juga telah melakukan evaluasi mengenai maraknya kendaraan tak tertib di kawasan terminal. “Akhirnya dengan Perda, kami mengatur jadi lebih enak. Tertib, kalau keluar masuk ada payung hukumnya.”, tambahnya.
Seorang pengemudi ojek online, Wahidin, 38, warga Trihanggo, Gamping, memilih menurunkan penumpangnya di luar area terminal Jombor saat melayani pelanggannya. Sebab dia merasa keberatan untuk membayar retribusi parkir yang diberlakukan bagi seluruh kendaraan yang memasuki terminal. “Saya bilang ke penumpang, kalau masuk dikenai tarif sekian. Kalau tidak mau mohon maaf saya antar sampai di depan saja. Tapi penumpang kebanyakan bisa maklum,” tuturnya. (tor/pra)