RADAR JOGJA – GENDERANG Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gunungkidul 2020 sudah ditabuh. Sejumlah kandidat bermunculan. Partai politik mulai bergerak. Ada yang mulai menggelar pertemuan-pertemuan. Termasuk pertemuan dengan format debat angkringan.
Kondisi tersebut kurang lebih mirip dengan pilkada di masa lalu. Setidaknya, hal tersebut diungkapkan Suharto SH, pemenang dengan meraih suara terbanyak dalam pilkada Gunungkidul pada 2005. Kemenangan tersebut mengantarkan Suharto menjadi bupati ke-24 Gunungkidul periode 2005-2010.
Rumah Suharto yang terletak di RT 8 RW 23 Jeruksari, Wonosari, tampak sepi kemarin siang (21/1). Gerbang rumahnya terbuka. Garasi mobil tidak ditutup. Mobil sedan warna merah hati terparkir.
Sekitar lima menit berselang, seorang tetangga Suharo muncul. Dia menyebutkan sang pemilik rumah sedang berada di kandang sapi yang berada di belakang rumah. ”Wonten wingking, langsung mrika mawon (ada di belakang, langsung ke sana saja),” kata seorang lelaki paruh baya yang kebetulan melintas di depan rumah Suharto.
Suharto memang berada di kandang sapi. Dia mengenakan kaos dan celana berwarna biru. Kumisnya tebal. Plus, berkacamata.
Dia duduk di samping kandang sapi, di antara tumpukan pakan ternak. Di dalam kandang, ada seekor sapi jenis simental.
”Mau kopi? Saya buatkan, ayo,” kata Suharto, lantas mengajak Radar Jogja menuju dapur. Suami dari Sumartini tersebut mulai menyiapkan gelas, mengambil bungkusan kopi, lantas menyalakan kompor.
Sambil membuat kopi, bapak dua anak tersebut mulai berbicara terkait pengalaman hidupnya. Sejak tidak menjabat sebagai bupati, dia mengaku banting setir. Dia memilih menjadi petani dan peternak sapi.
Suharto juga menyinggung pilkada. Menurutnya, pilkada sudah berbeda. Pilkada yang dilaksanakan saat ini tidak sama dengan pilkada saat dia hendak maju menjadi kandidat bupati Gunungkidul.
”Sekarang dunia berubah. Tekhnologi, sosial, hukum, juga berubah. Maka harus dapat bupati yang bisa mengubah. Jangan monoton,” ucapnya.
Suharto mengaku memiliki kriteria mengenai calon pemimpin yang nanti bisa membawa arah Bumi Handayani jauh lebih baik di masa depan. Siapapun calonnya, tidak masalah.
”Kalau dulu orang berkualitas akan menang. Sekarang harus menghitung kuantitas (dukungan). Untuk menghitung pemilih dan membayar pemilih. Kalau nggak, tidak jadi,” ucapnya.
Sambil membawa nampan berisi tiga gelas berisi seduhan kopi, Suharto mengajak keluar dari dapur untuk berpindah duduk di samping kandang sapi. Dia tetap antusias membahas politik. Meski, secara personal, dia mengaku sudah enggan terlibat langsung dalam dunia politik.
”Sudah cukup (berpolitik). Waktunya beribadah. Jika adzan terdengar, sudahi aktivitas, lalu salat,” ujarnya.
Kakek dari lima cucu ini punya pesan khusus kepada calon bupati masa depan. Dia berpesan, kandidat yang akan maju sebagai bupati jangan ndakik-ndakik (muluk-muluk). Misalnya, berjanji membangun gedung dan seterusnya.
Menurutnya, hal terpenting yakni membangun jiwa. ”Kalau jiwa sudah terbangun, yang lain mengikuti. Jejeg imane, jejeg tujuane (lurus imannya, lurus tujuannya). Karena, jejeg imane adalah dimensi moral. Sementara jejeg tujuane itu dimensi akal,” ungkapnya. (amd)