RADAR JOGJA – Upaya menghentikan penyebaran penyakit antraks terus digencarkan Pemkab Gunungkidul. Kini dibuat aturan tetang pengendalian lalu lintas hewan ternak khusus di wilayah suspect.

Pemkab melalui petugas gabungan terdiri atas dinas pertanian dan pangan (DPP), dinas perhubungan (dishub), Satpol PP, TNI dan Polri merazia di sekitar pasar hewan. Sasarannya hewan ternak dari Desa Gombang, Kecamatan Ponjong dan dari Pucanganom, Kecamatan Rongkop.

Hewan ternak di dua wilayah itu tidak boleh diperjualbelikan. Petugas gencar melakukan razia sejak tiga hari lalu. Kendaraan pengangkut  ternak dihentikan. Ditanya asal muasal. Jika ternak berasal dari kawasan endemik, diminta putar balik.

“Hari pertama ada 12 mobil truk pengangkut ternak kami minta putar balik. Hari kedua tiga mobil juga kami minta balik kanan,” ujar Kepala Bidang Peternakan DPP Gunungkidul Suseno Budi saat ditemui di pos pantau lalu lintas ternak di wilayah Semuluh, Semanu, Senin (21/1).

Dia menjelaskan, tindakan pencegahan keluar masuk ternak dilakukan untuk mencegah penyebaran bakteri antraks agar tidak meluas. Langkah ini menindaklajuti pemberian antibiotik dan vaksin sebelumnya. “Pengawasan dan pembatasan lalu lintas hewan ternak dilakukan sebagaimana instruksi bupati,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul menyampaikan, kondisi 27 orang positif antraks kini terus membaik. Hingga sekarang tidak ada penambahan pasien positif antraks.

Hanya diakui, ada laporan mengenai seorang warga diduga mengalami gejala antraks. Di Kecamatan Semin muncul satu kasus warga mengeluhkan luka usai memotong sapi.

“Sampai hari ini belum ada tambahan lagi, masih 27 itu yang positif. Ya, mudah-mudahan cukup segitu,” kata Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawati.

Meski ke-27 orang tidak diisolasi, pihaknya tetap melakukan pemantauan di Padukuhan Ngrejek, Gombang, Kecamatan Ponjong, selama 2×60 hari. Hal itu untuk mendeteksi keberadaan warga terpapar antraks.

“Kami lebih ke lokasinya. Di lokasi terdampak itu lingkungannya sudah teratasi belum. Kenapa kok 120 hari, karena inkubasi kuman antraks masuk dan timbul gejala mulai dari 1 sampai 60 hari,” ucapnya. (gun/laz)