RADAR JOGJA – Menyambut perayaan tahun baru Imlek 25 Januari, warga keturunan Tionghoa mulai mempersiapkan diri dengan ritual membersihkan patung-patung dewa, di Kelenteng Fuk Ling Miau, Gondomanan, Kota Jogja, Minggu (19/1).

Menurut pantauan Radar Jogja, pembersihan patung-patung dewa dibantu oleh warga dari berbagai komunitas masyarakat lintas iman dan budaya seperti Galang Kemajuan (GK) Ladies, Alumni SMA Yogya Bersatu (ASYB) maupun Gerakan Sosial Mulia Abadi (Gesoma).

Ketua Pengurus Kelenteng Fuk Ling Miau Angling Wijaya mengatakan, pembersihan patung-patung dewa tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Tahun lalu tidak seramai tahun sekarang yang melibatkan komunitas lintas agama. “Ini menandakan kebersamaan. Kalau kita kerja sama dikruyuk kan cepat selesai,” katanya di sela acara bersih-bersih.

Angling menjelaskan, patung-patung di kelenteng itu diturunkan dan dibersihkan. Ritual ini merefleksikan agar manusia tak lupa membersihkan hati, fisik, mental, dan nurani manusia untuk memasuki tahun baru Imlek.

Ritual ini rutin dilakukan sebagai tradisi menyambut sepekan menjelang tahun baru China itu. Sebab pada masa-masa seperti sekarang, menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, para dewa sedang menghadap ke langit sekitar 10 hari.

Sehari sebelum para dewa pergi ke langit, warga Tionghoa melakukan persembahyangan sebagai ucapan selamat jalan. “Ya, cuci patung ini kalau dewanya sudah naik ke kayangan, kita baru cuci patung. Hari kemarin dewanya sudah naik ke atas,” ungkapnya.

Dia menuturkan, selama dewa belum turun, seluruh jemaat secara otomatis juga tidak datang sembahyang ke kelenteng. Oleh karena  itu waktu senggang dimanfaatkan untuk bersih-bersih. “Di sini ada banyak patungnya dan 16 altar yang kami bersihkan,” jelasnya.

Pelaksanaan sembahyang tahun baru Imlek dimulai malam hari tanggal 24 Januari sampai menyambut tahun baru Imlek pukul 00.00, 25 Januari. Pada sembahyang malam harinya disambut barongsai dan kembang api.  “Itu banyak yang doa. Yang tiak bisa datang malam bisa datang paginya, terus sampai seminggu berdoa nggak papa nanti terkabul,” ucapnya.

Di kelenteng ini ada tiga agama yang biasa bersembahyang, yaitu Konghucu, Budha, dan Tao. Dia berharap Imlek tahun ini dapat membawa kemajuan bagi masyarakat keturunan Tionghoa khususnya. “Semoga berkah kesehatan dan rezeki agar lancar. Dan tentunya Jogja semakin aman, makmur, tenteram, dan damai,” harapnya.

Sementara, Ketua I komunitas ASYB Sarwestu Widyawan mengatakan, anggotanya yang turut membantu bersih-bersih kelenteng dan cuci patung berjumlah 50 orang. “Kami dari berbagai keyakinan di komunitas ini,” katanya.

Dukungan ini dimaknai sebagai wujud mempublikasikan kepada masyarakat dan berkomitmen menjadi pelopor atau salah satu ujung tombak bagi pemerintah dalam mengedepankan, mensosialisasikan, dan mengajak masyarakat agar terus menjaga kebersamaan di dalam kebinekaan. “Salah satu tujuan kami menjaga kebersamaan dan kebinekaan ini dalam rangka melawan intoleransi,” tandasnya. (wia/laz)