RADAR JOGJA – Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang saat ini menjadi gedung Jogja Nasional Museum (JNM) di Gampingan, Wirobrajan, Kota Jogja, adalah cikal bakal berdirinya Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja. Awal keberadaannya dimulai dari era tahun 1950. Didirikan oleh pemerintah Indonesia dengan Presiden Soekarno saat itu.

ASRI berdiri atas dasar SK Menteri PP dan K No 32/Kebud, tanggal 15 Desember 1949. Peresmiannya dilakukan 15 Januari 1950 oleh Menteri PP dan K saat itu, S. Mangunsarkoro di Bangsal Kepatihan Jogjakarta, dengan mengangkat direktur pertamanya RJ Katamsi. Bidang pendidikan seni yang diselenggarakan ASRI saat itu yaitu Seni Lukis, Seni Patung, Seni Pertukangan, dan Redig singkatan dari Reklame, Dekorasi, Ilustrasi Grafik. Disusul Jurusan Guru Menggambar.

Di awal berdirinya, ASRI serba dalam kondisi darurat alias belum memiliki satu kampus yang terpadu. Pendidikan dilaksanakan di banyak tempat. Gedung Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) Jogjakarta sebagai kantor pusat, tempat kuliah, dan studio Bagian I/II. SMA/B Kota baru dan rumah RJ Katamsi di Gondolayu untuk studio Bagian IV dan V. Bekas gedung Kunst Ambachschool di Ngabean dan Bintaran untuk studio Bagian III.

Baru pada tahun 1957, ASRI mendapat gedung pre-fabricated bantuan dari Amerika Serikat yang bentuknya sama dengan banyak gedung SMA di Indonesia. Ini dikenal dengan kampus Gampingan yang legendaris itu. Dengan kondisi sarana dan prasarana yang sangat terbatas, juga pengalaman penyelenggaraan akademi yang belum ada, dan sumber daya manusia yang sangat kurang, kenyataannya ASRI bisa berjalan.

Tetapi lebih dari itu, sebenarnya dosen-dosen yang mengajar mempunyai kualitas hebat. RJ Katamsi sendiri lulusan Academie voor Beeldende Kunsten, Den Haag, mengajar sejarah kesenian, ilmu reproduksi, perspektif, dan opmeten. Djajengasmoro mengajar melukis dan stilleven. Kusnadi yang juga pelukis, mengajar komposisi. Mardio mengajar metodik dan menggambar di papan tulis. Ardan mengajar pengetahuan bahan dan Warindyo pada menggambar ukir-ukiran.

Dokter Radiopoetro mengajar anatomi plastis, Widjokongko pada fotografi, tipografi, dan ilmu ukur melukis, sedangkan Padmopoespito mengajar sejarah kebudayaan. Dari siswa angkatan pertama yang berjumlah 160 orang, muncul potensi-potensi kuat dalam masing-masing bidang seni rupa, sehingga setelah lima atau enam tahun kemudian direkrut menjadi pengajar. Mereka adalah Widayat, Hendrodjasmoro, Saptoto, HM Bakir, Abas Alibasyah, Abdul Kadir, Edhi Sunarso, dan Soetopo. Dalam dunia seni rupa Indonesia, mereka juga akhirnya dikenal sebagai seniman-seniman yang handal.

“Makanya patung RJ Katamsi ada di depan gedung itu. ASRI dulu menjadi tempat pendidikan para seniman Indonesia yang terkenal,” ujar ujar Supervisor Teknis JNM Nugroho Ari saat ditemui Radar Jogja, kemarin (18/1).

Seiring berkembangnya waktu, sejak tahun 1950-an hingga 1970-an masih dengan nama ASRI kemudian berkembang menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Jogja sekitar tahun 1970-an. Dan menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Jogja tahun1984. Sebagai sekolah tinggi yang diberi kewenangan untuk membuka tingkat sarjana.

Perbedaan perubahan kelembagaan dari ASRI ke ISI, dirasakan oeh para seniman waktu itu. Menurutnya, seniman pada masa itu lebih ingin punya nama dengan jebolan atau lulusan ASRI. Sebab, pada masa ASRI masih ada kebebasan dalam berkarya dalam hal teknis maupun kontennya. “Dulu itu orang lebih getolnya atau ingin punya nama karena ASRI. Ada kebebasan berkarya, tapi tidak boleh mengkritik pemerintahan,” jelasnya.

Kendati demikian, perbedaan lain muncul jika masa itu masih ada pengkotak-kotakan atau gap-gapan seniman atau komunitas tertentu sesuai masing-masing aliran gaya seni rupanya. Namun, sekarang justru tampak solidaritas para seniman tanpa memandang aliran tertentu.

“Kalau sekarang bagus, malah membaur. Sudah nggak ada permusuhan. Justru sekarang kritikan karya dijadikan sebagai motivasi untuk membangun karya tersebut,” terangnya.

Adapun gedung ASRI yang sekarang menjadi JNM sempat mangkrak selama lima tahunan karenan transisi perpindahan gedung ISI ke Sewon, Bantul. Maka tahun 2006 karena masuk sebagai gedung cagar budaya, diresmikan menjadi gedung JNM. “Dulu mangkrak lama, cuma tumbuh rumput tingg-tinggi, di sini nggak terawat,” tandasnya.

Oleh karena itu sejak tahun 2006 dicetuskan menjadi gedung JNM sebagai pemanfaatan gedung seni dan budaya oleh KPH Wironegoro dan GKR Mangkubumi. Dengan didukung berbagai fasilitas ruang pameran seni rupa, workshop, talkshow, seminar, maupun untuk pentas seni kesenian. “Sekarang masih sering didatangi seniman-seniman terkenal juga,” tambah Nugroho.

Cetak Seniman, Bukan Sarjana Berbasis Seni

ASRI meninggalkan kesan mendalam para alumninya. Bagi Titoes Libert, ASRI merupakan tempat belajar yang menyenangkan dan selalu penuh tantangan. Kritikan pedas para dosen kala itu menjadi cambuk baginya untuk terus berjuang di jalan seni.
Materi yang diajarkan melekat kuat. Tak ingin dipendam, dia terapkan di karyanya dan diajarkan ke mahasiswanya. “Ya, ilmu itu masih melekat kuat. Bahkan masih jadi patokan mengajar,” ungkap Titoes kepada Radar Jogja kemarin (18/1).
Titoes merupakan alumnus ASRI tahun 1976-1982. Selepas itu, dia menjadi dosen ISI Jogjakarta Jurusan Seni Murni Program Studi Seni Lukis.
Ada banyak hal yang berkesan saat menjadi mahasiswa ASRI. Dia menilai saat itu dosen begitu akrab dengan muridnya. Masukan dosen menjadi hal mujarab. Apalagi kritikan-kritikan pedas adalah hal yang paling ditunggu-tunggu.
“Meski tak jarang jadi guyonan hingga menimbulkan dendam. Dendamnya bukan berantem. Tapi lebih pada karya. Bagaimana selanjutnya dapat membawa karya bagus,” ungkapnya diserai tawa ringan.
Dikatakan, dosen ASRI merupakan orang-orang hebat. Mereka merupakan pahlawan seni. Bagaimana sulitnya seni saat itu. Hingga suatu ketika terjadi booming seni rupa di Jogja. Mereka adalah Fajar Sidik. Fajar sidik dikenal dengan teori-teori bidangnya yang menjadi unsur dalam mata pelajaran nirmana. Ada Wardoyo, Aming Prayitno, Subroto, Wardoyo Sugianto, Sudarisman, Nyoman Gunarso dan Widayat dan lain-lain.
Menurut Titoes, saat itu ASRI hanya mempunyai satu tujuan. Yakni menciptakan seniman. Bukan menciptakan sarjana berbasis seni. Karena ada semangat yang berbeda di dalamnya. “Dulu lebih keras dari sekarang. Tantangannya juga lebih besar,” ucapnya.
Ada hal unik saat penilaian seni lukis. Semua karya dijejer di sepanjang koridor bangunan ASRI yang kini berganti nama menjadi Jogja National Museum (JNM). Saat penilaian seluruh karya dijajar hingga ke lantai tiga. Setiap penilaian dosen membawa kapur tulis.
“Yang dapat nilai dikit karyanya dibalik. Kalau sudah begitu, ada rasa malu, bahkan mahasiswa cewek pada nangis. Dapat nilai B itu sulit. Tak sedikit yang jadi mahasiswa abadi,” ungkapnya terkekeh.
Bahkan tak sedikit mahasiswa yang kehabisan modal. Lalu memilih nyopot kuliah dan bekerja. Di angkatannya misalnya, dari 30 mahasiswa setengahnya yang dapat bertahan. Itu lantaran biaya material lukis mahal.
“Di sisi lain banyak yang menilai. Mau jadi apa masuk ASRI? Jadi seniman nggak punya masa depan,” ungkap Titoes menirukan gaya orang tua dulu yang melarang anak-anaknya masuk ASRI.
Bahkan suatu ketika, ada orang tua murid datang menemui dosen. Protes meminta penjelasan. Mengapa jika anaknya menggambar potret bagus kok kalau kuliah karyanya nggak bagus. “Orang tua banyak yang nggak paham seni,” ungkapnya.

Kemudian dengan semangat berkarya. Perlahan karya seni lukis diterima di masyarakat. Pada tahun 1990-an, Jogja mengalami booming seni. Kolektor dari penjuru negeri berdatangan. Tak sedikit yang memborong dan membopong karya seni dan senimannya. (mel/wia/laz)