RADAR JOGJA – Pemkot Jogja harus bertindak tegas dan cepat. Di kawasan Malioboro, lepas tengah malam kini sering ditemui pedagang asongan yang berjualan di trotoar. Berjualan layaknya pedagang klitikan.

Informasi yang diperoleh Radar Jogja, pedagang asongan tersebut datang ke Malioboro dengan mengendarai sepeda. Biasa berjualan selepas pukul 00.00 hingga sekitar pukul 03.00. Berjualan seusai toko dan PKL tutup. Menjual berbagai aksesoris.

Ketika dikonfirmasi, Kepala unit pelaksana teknis (UPT) Malioboro Ekwanto mengaku belum mengetahui secara persis adanya pedagang yang berjualan hingga tengah malam tersebut. Menurut dia, untuk pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Malioboro sudah terdata. “Tapi apakah yang nggelar (lapak) di situ pedagang kami, atau malah pedagang liar yang masuk kucing-kucingan kami belum tahu persis,” kata Ekwanto di Kompleks Balai Kota, Senin (13/1).

Ekwanto menjelaskan, untuk PKL sudah diatur dengan Peraturan Wali Kota Jogja Nomor 37 Tahun 2010 tentang Penataan PKL kawasan khusus Malioboro dan Ahmad Yani. Terdapat ketentuan-ketentuan batas waktu berjualan di kawasan tersebut. Yaitu mulai dari pukul 07.00-21.00. Batas waktu tersebut bagi PKL kawasan khusus Malioboro yang membelakangi toko maupun menghadap ke toko. “Ini semuanya harus mentaati aturan,” tegasnya.

Namun bagi PKL lesehan, makanan dan minuman, serta angkringan, rata-rata memiliki batas waktu siang pukul 07.00-17.00 dan malam pukul 18.00-04.00. “Pedagang yang kucing-kucingan atau main curi waktu yang lain tidak buka dan dia buka untuk mencari laris, ini tetap enggak boleh,” ucapnya.

Mantan Lurah Prawirodirjan itu menambahkan, pedagang yang buka hingga tengah malam bisa diprediksi membuka lapak di kawasan Malioboro di luar waktu operasional karena tidak ada lapak lain. Bisa kemungkinan PKL liar. “Tapi kami belum tahu ini, nanti kami koordinasi dulu dengan Satpol PP,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kot  Jogja Agus Winarto menegaskan akan menindak secara yustisi bagi PKL yang berjualan di pedestrian. Termasuk yang berjualan malam atau melebihi dari batas waktu yang ditentukan. “Kami tetap akan tindak dan proses PKL liar di Malioboro,” kata Agus.

Selama ini upayanya rutin melakukan operasi dalam tiga shift yaitu pagi, siang, dan malam. Hanya saja, tidak memungkinkan menunggu di lokasi selama 24 jam. Sehingga dia mengimbau masyarakat agar bisa menciptakan suasana malioboro yang nyaman. Mantan Camat Umbulharjo itu meminta kepada semua pihak yang berkepentingan di Malioboro bisa saling menjaga. “Insyaallah mudah menciptakan malioboro yang indah, bersih, nyaman termasuk wisatawan yang berkunjung ke Malioboro,” katanya. (wia/pra)