RADAR JOGJA – Demam berdarah dengue (DBD) di Gunungkidul harus diwaspadai. Berdasarkan data RSUD Wonosari, penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk aedes aegypti itu memakan korban jiwa pada Januari ini.

Pasien yang meninggal itu tercatat sebagai warga Desa Wareng, Kecamatan Wonosari. Dia sempat menjalani perawatan di RSUD Wonosari pada Jumat (10/1). Namun, akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Merespons kejadian ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul tidak mengeluarkan kebijakan terkait meninggalnya penderita DBD tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB). ”Untuk penetapan kejadian luar biasa (KLB), saya kira belum. Karena, masih berusaha melakukan penanganan. Kalau bisa dikendalikan, maka tidak perlu ada KLB,” jelas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty Senin (13/1).

Dia membenarkan ada pasien DBD yang sempat dirawat di RSUD Wonosari meninggal dunia. Meski demikian, pihaknya masih melakukan kajian di lapangan untuk mengetahui penyebab pasti kematian tersebut.

Lebih jauh dikatakan, pencegahan DBD bisa dilakukan dengan beberapa cara. Selain menerapkan pola hidup bersih dan sehat, juga dapat dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk dengan pemberian bubuk abate di air.

Selain  itu, perlu digalakkan Gerakan Tiga M yakni mengubur, menguras, dan menutup bak air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. ”Untuk fogging (pengasapan) akan dilakukan setelah ada surat kewaspadaan diri rumah sakit terkait dengan DBD,” ujarnya.

Awal Januari ini, RSUD Wonosari merawat sejumlah pasien DBD. Setidaknya, ada 12 pasien.

Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi RSUD Wonosari Sumartana mengatakan, tim medis sudah berusaha menolong korban. Tapi, berdasarkan hasil pemeriksaan, korban terlambat dirujuk ke rumah sakit.

”Datang sudah dalam kondisi parah,” kata Sumartana.

Dia menjelaskan, penderita DBD sudah dilaporkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul. Menurut dia, warga Desa Wareng tersebut merupakankorban meninggal dunia pertama pada 2020 ini.

Tahun lalu, RSUD merawat 297 pasien DBD. Namun, tidak ada pasien yang meninggal dunia.

”Untuk mengurangi risiko fatal penyakit DBD, masyarakat kami minta mengenali ciri-ciri awal penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aides agepty. Pengenalan tanda penyakit demam berdarah ini penting sehingga korban dapat diselamatkan,” ungkapnya.

Di antara tanda-tanda itu yakni suhu badan tinggi yang bisa mencapai 40 derajat Celcius atau lebih. Selain itu, sakit kepala berat dan hilang nafsu makan.

Tanda lainnya berupa nyeri pada sendi, otot, tulang, dam bagian belakang mata. Selain itu, muncul ruam kemerahan sekitar 2-5 hari setelah demam. (gun/amd)