RADAR JOGJA – Kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kulonprogo meminta Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) melakukan normalisasi Sungai Serang dan Bogowonto untuk mengantisipasi banjir di wilayah selatan Kulonprogo. Normalisasi juga dilakukan di anak-anak sungai yang memiliki sedimentasi tinggi.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Kulonprogo Edi Priyono mengagakan, normalisasi harus dilakukan secara berkesinambungan. Sungai-sungai yang mendesak untuk dinormalisasi di antaranya berada di Kecamatan Wates, Panjatan, Galur, Lendah, dan Temon.”Normalisasi sudah dilakukan belum dikerjakan secara tuntas, namun hasilnya sudah dapat dirasakan masyarakat, ” katanya, Senin (13/1).

Menurutnya, hal itu bisa dibuktikan dalam satu minggu terakhir. Wilayah Kulonprogo sempat diguyur hujan dengan intensitas tinggi, namun tidak terjadi genangan seperti tahun-tahun sebelumnya. “Untuk itu, kami berharap normalisasi terus dilakukan secara periodik dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dijelaskan, setelah 1984 hingga 2000-an, Sungai Serang dan Sungai Bogowonto dan anak-anak sungai lama tidak dilakukan normalisasi, kondisi itu sempat memori banjir tahunan.  “Harapannya, ketika dilakukan secara normalisasi secara periodik, bencana banjir selatan di Kulonprogo dapat teratasi,” jelasnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo Ariadi menjelaskan, berdasarkan hasil pemetaan potensi bencana banjir di wilayah Kulonprogo berada di delapan kecamatan, yakni Wates, Panjatan, Galur, Lendah, Temon, Sentolo, Nanggulan, dan Kalibawang.

Menurutnya, potensi banjir paling parah di Kecamatan Wates, Panjatan, Galur, Lendah dan Temon. “Kami sudah menyiapkan kebutuhan logistik dan sarana prasarana lain untuk mengatasi banjir,” jelasnya. (tom/din)