RADAR JOGJA – Untuk mengantisipasi penularan antraks, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melarang masuknya ternak sapi dan ternak ruminantia dari daerah yang sedang terjadi wabah antraks.

Saat ini, kasus wabah antraks sedang terjadi di salah satu wilayah di Gunungkidul.  Meskipun demikian, kasus tersebut sudah ditangani Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, serta Dinas Pertanian Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono menjelaskan saat ini pihaknya tengah melakukan pengamatan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ternak yang ada di wilayah Sleman. Terkait dengan tersebarnya antraks di Gunungkidul, pihaknya mengimbau masyarakat peternak segera melaporkan kejadian saat adanya kematian mendadak pada ternak sapi dan ruminantia. “Pelaporan bisa dilakukan di pusat kesehatan hewan (Puskeswan) terdekat atau ke DP3 Sleman,” jelas Heru Senin (13/1).

Heru menekankan, penularan antraks bisa terjadi jika adanya kontak langsung dengan ternak yang sedang tertular. Selain itu, penularan juga bisa melalui pakan ternak yang tercemar, alat angkutan ternak, serta materi atau orang yang telah tercemar bakteri antraks.

Saat ini, pihaknya juga telah melakukan edukasi kepada masyarakat saat membeli hewan ternak dari luar daerah untuk mendapatkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari wilayah asal hewan. “Atau kalau tidak mendapatkan, harus segera diperiksakan ke puskeswan setempat,” tambah Heru.

Menurut Heru, terkait antraks pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi DIJ untuk meminimalkan penyebaran. Untuk saat ini, pengujian tengah di Balai Besar Veteriner (BBVet) Jogjakarta dan masih menunggu hasilnya.

Untuk memantau masuknya hewan ternak ke DIJ, dua pos lalulintas ternak di perbatasan DIJ-Jateng akan dibangun di Sambirejo. Serta satu pos lainnya akan ada di Rongkop, Gunungkidul yang perbatasan DIJ-Jatim. “Pembangunan akan dilakukan oleh pihak Pemerintah Provinsi DIJ,” tutur Heru.

Pakar biokimia Fakultas Kedokteran Hewan sekaligus Koordinator One Health Collaborating Center (OHCC) UGM Wayan Tunas Artama menuturkan ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk menekan penyebaran antraks. Mulai dari memperhatikan lalulintas ternak dari satu wilayah ke wilayah lainnya, sosialisasi kepada masyarakat terkait antraks dan penanganannya, serta melakukan vaksinasi.

Wayan mengimbau kepada masyarakat agar memerhatikan kontak langsung dengan hewan untuk meminimalkan penularan. Selain itu, masyarakat juga tidak boleh mengonsumsi daging hewan yang telah terkontaminasi. “Konsumsi hewan yang mati mendadak tidak boleh dilakukan,” tegasnya. (eno/din)