Kaca yang tidak terpakai selama ini hanya jadi limbah tak berguna. Namun di tangan Ivan Bestari Minar Pradipta, limbah kaca bisa menjadi karya seni yang indah dan punya nilai ekonomis. Ivan “menyulapnya” dengan teknik flame working.

JIHAN ARON VAHERA, Jogja, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Iwan mulai bergelut dengan limbah kaca diawali pada tahun 2011.  Pemuda asal Pakuncen, Wirobrajan, Kota Jogja, ini mendirikan Otakatik Creative Workshop.

Ia menamakan Otakatik karena saat SD selalu aktif dan tidak pernah diam. Dia dulu selalu membuat segala sesuatu menjadi karya. Misalnya kayu dibentuk sedimikan rupa sehingga menjadi bentuk hewan. “Memang dari dulu suka uthak-uthek,” tuturnya saat ditemui Radar Jogja.

Otakatik adalah sebuah komunitas yang di dalamnya berisi anak-anak muda dari Jurusan Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) yang sama-sama belajar dan berkreasi. Bahannya bisa limbah atau nonlimbah. Salah satunya dengan memanfaatkan limbah kaca ini.

Ivan belajar membuat karya itu pada saat dia magang di salah satu bengkel pembuat alat-alat laboratorium di Condongcatur, Depok, Sleman. Selepas magang, ia mulai memanfaatkan peluang membuat inovasi lain. Ivan bereksperimen membuat sesuatu dengan bahan lain yaitu limbah kaca dan ternyata tetap menghasilkan sesuatu.

Awalnya pada 2012 Ivan memasang foto hasil karyanya di salah satu web galeri online dan karyanya dipasang di frontpage satu hari penuh. Karyanya lantas mendapatkan banyak respons dari warganet.

Ivan semakin semangat dan tergugah untuk terus berkarya. Sampai saat ini, karya-karyanya sudah dipamerkan hingga Surabaya, Jakarta, bahkan pernah diundang juga ke Singapura dan Rusia.

Ivan menuturkan, sebenarnya limbah kaca ini tidak sulit untuk ditemukan. Tetapi dia mengaku bahwa di Indonesia, seniman yang memanfaatkan limbah kaca baru sedikit.

“Di Indonesia yang memanfaatkan limbah kaca sedikit sekali. Mungkin hanya dua orang, saya dan teman saya asal Bandung. Itu pun juga belajar dari saya,”  ungkapnya Jumat (10/1).

Yang menjadi khas dari karya Ivan adalah selalu mengadaptasi atau inspirasinya dari alam dan makhluk hidup, seperti bentuk tumbuhan dan hewan. “Tetapi saya biasa menerjemahkan ke bentuk yang abstrak atau semi abstrak. Jadi lebih mengikuti ekspresi diri saja,” tambahnya.

Menariknya, karya Ivan murni 100 persen dari limbah kaca. Dari karyanya-karyanya itu, ia jual mulai kisaran harga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Proses pembuatan karyanya mulai dari limbah kaca dilunakkan terlebih dahulu. Kemudian dibuat menjadi bahan menjadi batangan kaca. Dari bahan itu baru dibuat bentuk sesuai keinginan atau pesanan konsumen. “Ada proses pembahanan dan ada proses pembuatan karya, hanya itu saja,”  tandasnya.

Ivan menuturkan, pembuatan karya dengan menggunakan bahan kaca apalagi dengan menggunakan teknik flame working harus dikerjakan dengan cepat. Tingkat kesulitan dengan teknik ini memang pengerjaan harus cepat, karena kaca memiliki ritme atau tempo agar mudah untuk dibentuk.

Suhu dari panasnya api yang digunakan untuk melunakkan kaca harus stabil. Jika terjadi perubahan suhu yang drastis, maka kaca akan pecah. Oleh sebab itu pengerjaannya harus hati-hati dan telaten.

Ia berharap seni kaca bisa lebih berkembang, karena sebenarnya orang-orang Indonesia talentanya sangat luar biasa. Dari segi kreativitas dan keuletannya, ada sebuah peluang besar untuk menghasilkan karya yang bagus dari limbah kaca. “Daripada hanya menjadi sampah, lebih baik dijadikan karya,”  tambahnya. (laz)