Radar Jogja – Aksi klithih masih menghantui masyarakat Jogjakarta. Jajaran Polresta Jogja menangkap 10 anggota geng sekolah yang menamai dirinya Sector atau Sindikat Elit Tirtonimolo.
Motif balas dendam terhadap geng sekolah Morenza, menjadi modus utama DB, 15 dan DAW, 16, saat melakukan aksi kejahatan jalanan itu. Dendam itu muncul karena anggota geng Morenza pernah melukai anggota geng Sector pada November 2019.
“Dulu teman saya terkena gir di kepala sampai sedalam 1 cm. Kami musuhan sama Morenza,” jelas DAW saat dihadirikan di hadapan wartawan di Mapolresta Jogja, kemarin (12/1).
Dia melanjutkan, beberapa temannya juga pernah diperas oleh anggota geng Morenza. Rekannya dicegat menggunakan sepeda motor saat pulang sekolah. “Kalau nggak mau (bayar), kita tempuk (tawuran),” jelas DAW menirukan ucapan anggota geng Morenza yang berasal dari SMK swasta di DIJ.
DAW mengaku telah menjadi anggota geng sejak kelas satu SMA. Tak ada paksaan ketika bergabung. Itu murni karena inisiatifnya sendiri.
Gang Sector diakuinya tidak memiliki ketua. Tiap ada keputusan besar, dilakukan dengan rembung bersama. “Saya ikut-ikut saja sama yang sudah masuk (geng),” paparnya.
DB dan DAW diamankan kemarin (12/1) sekitar pukul 03.30 saat jajaran Polresta Jogja berpatroli di wilayah perbatasan. Pada waktu itu, ketika petugas melintas di Jalan Imogiri Barat, tepatnya selatan Pasar Telo Karangkajen, Mergangsan, anggota berpapasan dengan dua orang pelaku. Geliatnya tampak mencurigakan.
“Mau mencari Morenza, malah ketemu petugas patroli,” jelas Kapolresta Jogja Kombes Pol Armaini. Waktu diberhentikan petugas, mereka malah kabur ke arah selatan. Polisi melalukan pengejaran.
Saat memasuki wilayah perempatan Wojo, Ringroad Selatan, DAW sempat melempar botol bekas minuman keras ke arah petugas. Sesaat setelahnya, kedua pelaku terjatuh dari sepeda motor dan berhasil dibekuk oleh petugas.
Di sana petugas menemukan satu buah senjata tajam jenis pedang tanpa gagang sepanjang 60 cm. “Senjata yang dibawa tidak terlalu tajam. Tapi kondisinya berkarat. Sehingga walau tidak mematikan, tapi bisa menimbulkan infeksi dan penyakit mematikan,” jelas perwira menengah dengan tiga melati itu.
Armaini menambahkan, DAW dulunya pernah tersandung kasus hukum. Dia melakukan pemecahanan kaca mobil polisi di daerah Wirobrajan. Namun dia dibebaskan dari jerat hukum karena masih di bawah umur. “Tapi sekarang akan dikenakan sanksi tegas,” tandasnya.
Setelah dilakukan interogasi dan pemeriksaan awal, ternyata rekan pelaku tengah berkumpul di kediaman DAW, di Jalan Kadipaten Lor, Kraton, Kota jogja. Petugas langsung meluncur ke lokasi dan mengamankan delapan anggota Sector lainnya.
Mereka adalah MYP, 15; HRT, 16; JIP, 15; RAS 18; MNA, 15; MK 15; MGD, 16; dan DYM, 18. Mayoritas adalah siswa SMA negeri di wilayah Kasihan, Bantul. Bahkan di ruang tamu, polisi menemukan beragam jenis senjata tajam dan alat pemukul.
Jumlahnya mencapai 11 buah. Meliputi gir, linggis, gergaji, pedang, penggaris besi yang ditajamkan, dan stik pemukul. “Mereka juga melakukan modifikasi senjata. Misalnya ada gunting rumput yang dikasih tongkat. Dan, standar motor yang dikasih pegangan,” terangnya.
Terhadap dua anak yang kedapatan membawa sajam dikenakan Pasal 2(1) UU Darurat No. 12/1951. Sedangkan delapan orang yang diamankan akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait maksud dan tujuan berkumpul di rumah DAW. “Kami koordinasi dengan jaksa penuntut umum. Kalau terbukti membawa sajam, ada UU darurat,” tandasnya.
Armaini mengimbau kepada orang tua untuk selalu mengawasi anaknya. Dia juga menyoroti orang tua yang bisa kecolongan hingga rumahnya dijadikan tempat berkumpulnya anggota geng pelajar. “Tapi saya yakin tidak ada orang tua yang mengizinkan apabila rumahnya dijadikan tempat seperti itu,” jelas Kapolrestabes. (tor/laz)