Radar Jogja – Komunitas Keroncong Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kota Magelang terus berkiprah. Mereka rutin menggelar latihan bersama.

Kamis (9/1) lalu, mereka menggelar latihan di kantor lama Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang. Anggota komunitas ini tampak antusias berlatih.

Ketua Komunitas Keroncong PWRI Sudaryadi menjelaskan, komunitasnya sering dipercaya mengisi berbagai acara di Kota Magelang. Mereka kerap mendapat undangan untuk mengisi acara.

Menurutnya, ada alasan khusus yang membuat mereka tetap eksis. Alasna tersebut yakni mereka merupakan salah satu dari segelintir orkestra keroncong yang masih membawakan keroncong asli. Ternyata, masih banyak penikmat keroncong asli di tengah maraknya keroncong kontemporer yang memadukan berbagai unsur musik modern.

Ada dua lagu keroncong yang sangat ikonik di Kota Magelang. Salah satunya berjudul Magelang Gemilang karya Anang Santjaka Rochani. Rochani merupakan maestro keroncong di Magelang.

Selain itu, ada lagu keroncong berjudul Putra Pertiwi karya Sudaryadi. Lagu ini cukup terkenal dibawakan oleh Nunung Sri Redjeki.

Selain itu, ada lagu berjudul Magelang Kota Harapan karya Sukimin Adiwiratmoko. Selain musisi keroncong, dia merupakan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang pada 1980-an. Lagu ini cukup ikonik dan setara dengan Bengawan Solo maupun Gambang Semarang.

”Agar keroncong dapat dinikmati kalangan muda-mudi, perlu nuansa baru,” ujarnya.

Maulana, anggota termuda Komunitas Keroncong PWRI, merasakan hal tersebut.Menurutnya, kebanyakan orkes keroncong yang saat ini dimainkan oleh kalangan pemuda banyak membawakan lagu-lagu dari genre lain. Tapi, aransemennya keroncong.

”Kalau anak muda mengenal keroncong asli, banyak yang belum tahu. Biasanya mengenal alat musik keroncong lalu meng-cover lagu pop, Barat, atau campursari. Tapi, juga ada yang sesekali yang membawakan lagu-lagu keroncong,” jelasnya. (asa/amd)