RADAR JOGJA – Berdasarkan rekaman gempa bumi di PGR VII Stasiun Geofisika Jogjakarta, sepanjang 3-9 Januari telah terjadi 16 kejadian gempa dengan rentang magnitudo 2,5 – 4,8. Belasan gempa bumi tersebut rerata berpusat di sejumlah daerah, di Jawa Timur dan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Di DIJ meliputi Gunungkidul dan Bantul.

Kepala Seksi Observasi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta, Budiarta menjelaskan adanya gempa bumi ini membuktikan keberadaan jalur subduksi di Selatan Jawa. Meskipun begitu, tidak ada peningkatan aktivitas kegempaan yang signifikan di area operasional PGR VII. “Sejauh monitoring kami, tidak ada peningkatan aktivitas kegempaan,” jelas Budiarta kemarin (10/1).

Menurut Budiarta, kondisi tersebut masih dalam kondisi normal. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya gempa yang terjadi dengan magnitudo rendah.

Kepala Stasiun Geofisika, BMKG Agus Riyanto menjelaskan, ada potensi kegempaan yang tinggi yang akan terjadi di kawasan pantai selatan Jawa. Sedikitnya, ada dua sumber gempa di wilayah selatan Jawa. Yaitu aktivitas pergerakan dua lempeng besar dunia; Indo-Australia dan Euro Asia, pada daerah subduksi yang terletak 200 kilometer dari pantai selatan Jawa. “Lempeng itu membentang dari selatan Sumatera sampai dengan Nusa Tenggara Timur (NTT),” ungkap Agus.

Agus menambahkan, pergerakannya, lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah lempeng Euro-Asia. Hanya saja ukurannya berbeda-beda di setiap wilayah. Untuk DIJ, kedua lempeng akan saling menyusup dengan ukuran rata-rata 44 milimeter per tahun. (eno/din)