Radar Jogja – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ telah memetakan delapan kawasan rawan bencana longsor dan banjir di wilayah DIJ. Wilayah itu berada di sejumlah titik di kawasan pegunungan di Kabupaten Kulonprogo meliputi Perbuktikan Menoreh, Girimulyo, dan Kokap. Selain itu, beberapa titik di Gunungkidul dan Bantul.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantara mengatakan, sebelum musim penghujan, masyarakat yang bermukim di daerah rawan telah mendapat sosialisasi. Sosialisasi menekankan kesiapsiagaan dan kepekaan terhadap gejala bencana.
Saat ini BPBD DIJ menyiagakan pos komando (posko) 24 jam yang beroperasi tiap hari. Di tiap kabupaten juga ada pos pengamatan di daerah rawan longsor. ”Misalnya, sepuluh pos pengamatan di Perbukitan Dlingo dan sekitarnya,” jelasnya usai kegiatan Apel Kesiapsiagaan Penanganan Bencana Alam di Mako Brimob Jogjakarta kemarin (7/1).
Pengawasan juga dilakukan dengan memanfaatkan teknologi early warning system (EWS). Saat ini BPBD DIJ mengoperasikan enam EWS di Kulonprogo dan Bantul. EWS merekam data kondisi curah hujan, pergerakan tanah, dan kemiringan pohon. Data dapat diakses secara real time. ”Apabila ada kondisi yang perlu diambil tindakan, langsung kami akan bergerak,” tuturnya.
Kepala BMKG Staklim Mlati Reni Kraningtyas menuturkan, hampir seluruh wilayah DIJ dilanda curah hujan lebat. Rata-rata curah hujan saat ini yakni 10-20 milimeter per jam. Kendati demikian, hingga saat ini belum mengakibatkan kondisi banjir yang signifikan.
Intensitas hujan tinggi, lanjut dia, cenderung terjadi di wilayah dengan topografi tinggi atau daerah dataran tinggi. Misalnya, kawasan pegunungan Merapi di Sleman serta Samigaluh dan Kalibawang di Kulonprogo. ”Rawan longsor. Harus diwaspadai,” tandasnya.
Hujan lebat diprediksi berlangsung selama Januari yang juga menjadi masa puncak musim hujan. Hujan lebat disebabkan meningkatnya suhu muka laut di perairan selatan DIJ dan Jawa Tengah. ”Suhu sudah cukup hangat sekitar 28-31 derajat Celcius. Ini memicu penguapan maksimal yang mengakibatkan potensi pembentukan awan penghujan,” paparnya.
Hujan lebat juga diikuti adanya potensi angin kencang dan petir. Awal musim hujan yang terlambat mengakibatkan karakter puncak musim hujan menyerupai musim pancaroba. ”Jadi, hujan lebat juga bisa diikuti angin kencang dan petir,” terangnya.
Wakapolda DIJ Brigjen Pol Karyoto menjelaskan, di tengah musim bencana pihaknya telah menyiagakan 449 personel Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di tiap wilayah. ”Babhinkamtibmas menjadi yang paling cepat dan tahu kalau ada apa-apa di tiap daerah,” jelasnya.
Apabila memerlukan penanganan lebih jauh, Polda DIJ siap menerjunkan personel dan peralatan untuk evakuasi. ”Untuk tahap kedaruratan paling awal, polres satu peleton siap menuju tempat bencana. Juga, ada anggota Brimob dan Samapta,” tuturnya. (tor/amd)