RADAR JOGJA – Kepala BPBD Kota Jogja Hari Wahyudi punya pesan khusus untuk mengantisipasi potensi bencana selamapeng hujan kali ini. Dia meminta masyarakat tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. Warga mesti mengelola sampah dengan baik.
“Amati juga lingkungan sekitar,” kata Hari dihubungi wartawan Kamis (2/1).
Dia menjelaskan, mengamati lingkungan sekitar dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan potensi bencana yang timbul. Misalnya, mengamati kemungkinan terjadi keretakan tanah maupun talud sungai. “Awalnya retak satu centimeter, kok semakin melebar menjadi dua, bahkan sampai tiga centimeter. Seperti ini harus segera dilaporkan dan ditindaklanjuti,” ujarnya.
Menurutnya, hampir semua sungai di Kota Jogja lebih potensial untuk mudah longsor. Apalagi, sungai yang sudah bertalud.
Aktivitas pengambilan pasir secara sembarangan dapat menggerus talud. Bagian tepi bawah talud bakal semakin berkurang sehingga talud tidak memiliki tumpuan lagi. “Nah, ini kalau kehantam air, ada risiko pecah, retak, dan ambrol. Tapi, kan itu nggak bisa kita deteksi karena ada di belakang talud. Nggak kelihatan,” jelasnya.
Hari menginbau masyarakat mengamati lingkungan sekitar. Termasuk melarang mengambil pasir secarasembarangan.
Khusus kampung yang berstatus Kampung Tanggap Bencana (KTB) bisa mendeteksi dan menyisir bantaran sungai yang terdapat talud. Jika mendapati ada keretakan pada talud bisa segera melapor ke Pemkot Jogja. Semua laporan yang diterima bakal ditindaklanjuti dengan assessment atau penelusuran bukti ke wilayah.
“Meski ini belum ada laporan, tapi perlu diantisipasi. Kita terima laporan masih seperti biasa adalah pohon tumbang,” terangnya.
Hari menambahkan, di beberapa sungai ada peningkatan debit air saat turun hujan dengan intensitas tinggi. Meski masih dilaporkan aman, peningkatan debit air sungai membuat air masuk ke permukiman. Ini lantaran adanya sampah yang dibuang ke sungai sehingga menyumbat aliran air.
“Sebagian besar karena sampah sehingga air balik lagi karena tersumbat. Biasanya itu yang mengakibatkan air kemudian masuk ke rumah atau wilayah,” tambahnya.
Sementara itu, Semua Bantul Siaga Darurat Bencana
Kewaspadaan terkait cuaca juga ditunjukkan BPBD Bantul. Instansi ini sudah dinyatakan dalam status siaga darurat bencana.
Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto menyatakan, upaya mitigasi sudah dipersiapkan untuk menghadapi potensi bencana yang mungkin terjadi selama musim hujan ini. Pihaknya mendirikan 20 pos pantau yang tersebar di bebeberapa kecamatan di Bantul.
“Itu sebagai langkah mitigasi sehingga dampak dari bencana di musim penghujan ini bisa diantisipasi,” katanya Kamis(2/1).
Dwi menyatakan, pihaknya juga menjalin koordinasi dengan instasi di Kota Jogja dan Sleman. Langkah ini sebagai ajang berkomunikasi untuk memantau keadaan. Termasuk peningkatan debit air sungai.
Menurut Dwi, adanya informasi debit air dari Kota dan Sleman sangat berpengaruh terhadap upaya mitigasi di Bantul yang merupakan daerah hilir. Apabila debit air di Kota dan Sleman sudah tinggi dan tidak seperti biasanya maka pemudian bisa menyampaikan informasi kepada warga untuk segera melakukan evakuasi sementara.
“Ini supaya bencana yang terjadi di Jabodetabek itu tidak terjadi di sini,” ujarnya.
Pada musim penghujan ini, semua wilayah di Bantul dinyatakan rawan bencana. Khususunya, daerah yang berada di pinggir sungai-sungai besar di Bantul.
Menurutnya, hampir semua daerah berada di pinggir Sungai Kuning, Sungai Opak, Sungai Oyo, dan Sungai Gawe adalah daerah yang berpotensi terdampak bencana musim penghujan. Dia mengimbau masyarakat yang berada di daerah tersebut selalu waspada.
“Apalagi, yang berada di tempurnan Sungai Oyo dan Sungai Opak, yaitu Kecamatan Sriharjo. Dis ana tingkat kerawanannya sangat tinggi sekali,” cetus Dwi.
Kepala BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas dalam rilisnya menyatakan, potensi cuaca ekstrem dimungkinkan terjadi dalam minggu ini. “Di Bantul, cuaca ekstrem mungkin terjadi di Sedayu, Kasihan, Sewon, Pajangan, Bantul, Pleret, Piyungan, Jetis, Imogiri, Dlingo, Srandakan, Sanden, dan Kretek,” jelasnya. (inu/cr15/amd)