RADAR JOGJA – Sempat dijuluki Los Galaticos di awal musim kompetisi, penampilan PSIM Jogja di Liga 2 musim 2019 gagal total. Tak hanya gagal mewujudkan target promosi, permainan PSIM juga jauh dari harapan. Padahal ada tiga pelatih yang dikontrak semusim lalu.

Liga 2 2019 lalu menjadi musim yang berat bagi PSIM Jogja. Laskar Mataram – julukan PSIM Jogja – sempat menarik perhatian di awal kompetisi. Yaitu dengan datangnya investor baru. Dia pun membawa gerbong para pemain Bogor FC ke PSIM.

Nama besar, seperti Cristian Gonzalez, Ichsan Pratama, atau Aditya Putra Dewa, yang sebelumnya membawa PSS Sleman promosi ke Liga 1 dan beberapa pemain bintang lain, seperti Raphael Maitimo, membuat PSIM dijagokan akan promosi. Ditambah pelatih asing Vladimir Vujovic atau Vlado.

Namun, setelah beberapa pekan berjalan permainan PSIM tak menawan. Pun demikian dengan hasil yang diraih oleh Laskar Mataram. Hal itu membuat sang pelatih Vlado mundur dari posisinya. Dia didemo para pendeman PSIM. Sebagai pengganti masuk Aji Santoso. Hasilnya lumayan. Laskar Mataram mengakhiri putaran pertama Liga 2 di posisi dua klasemen. Meraih empat kemenangan dan dua kekalahan dari enam pertandingan.

Tapi masuk paro kedua, transfer pemain menjadi bumerang.Setelah melakukan diskusi dengan Aji Santoso, PSIM melepas 11 pemain sekaligus. Sebagai gantinya, PSIM membawa 11 pemain baru. Berasal dari tim Liga 1, seperti Sutanto Tan, dan Syaiful Indra Cahya. Juga wonderkid Witan Sulaeman.

CEO PT PSIM Jogja, Bambang Susanto kala itu menyatakan bahwa pembenahan besar besaran dalam tubuh Laskar Mataram ini hanya demi satu tujuan, musim depan PSIM tembus Liga 1. “Kami sudah memiliki target jelas, bahwa PSIM musim depan harus naik kelas Liga 1,” ujar Bambang soal alasannya mendatangkan pemain baru tersebut.

Datangnya 11 pemain baru yang menggantikan 11 pemain yang lama tersebut sempat membuat gairah yang luar biasa di tubuh para suporter. Apalagi pada puataran kedua Liga 2 musim 2019, PSIM sudah bisa kembali berlaga di kandang mereka yang sebenarnya, Stadion Mandala Krida.

Namun, tren positif PSIM tak berlanjut. Dalam tujuh laga di putaran kedua, PSIM hanya bisa menang dua kali. Sisanya tim yang berdiri pada 1929 itu selalu menelan kekalahan. Puncaknya adalah ketika PSIM bertandang ke markas Martapura FC pada 8 Oktober yang lalu. Kala itu PSIM kalah tipis dari Martapura FC. Kekalahan itu juga membuat Aji Santoso mundur.

Posisi Aji kemudian digantikan oleh Liestiadi. Bersama dengan Erwan Hendarwanto, Liestiadi ditugaskan memimpin PSIM di dua laga sisa. Di dua laga itu PSIM menang 2-0 atas Persatu Tuban dan kalah 2-3 di kandang sendiri dari Persis Solo.

Kiper PSIM Jogja, Ivan Febrianto angkat bicara mengenai kegagalan PSIM promosi ke Liga 1 pada musim ini. Menurut dia, pergantian pelatih di tengah kompetisi sampai dua kali sangat mempengaruhi kondisi psikologis tim. “Semua pemain harus beradaptasi dengan skema yang dibawa pelatih baru, maka dari itu kami perlu waktu untuk adaptasi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jogja Senin  (29/12).

Ivan juga berkomentar terkait pergantian 11 pemain sekaligus di bursa transfer paruh musim yang dilakukan PSIM. Menurut dia, hal itu juga lagi-lagi mempengaruhi proses adaptasi skuad Laskar Mataram. “Dengan waktu yang ada agak sulit bagi kami untuk membentuk chemistry satu sama lain,” jelasnya.

Wakil Presiden Brajamusti Saga Susanto menyayangkan bongkar pasang pemain besaran yang dilakukan di tengah musim oleh PSIM. “Para pemain butuh adaptasi, dan waktu untuk adaptasinya singkat sekali di musim lalu,” tuturnya. (cr12/pra)