RADAR JOGJA – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta menganugerahi Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid gelar Doktor Honoris Causa (HC) Rabu (18/12). Penganugerahan didasarkan pada Keputusan Rektor UIN Sunan Kalijaga No 239/2019 tertanggal 18 Desember 2019. Anugerah itu didapatkan Sinta atas karya dan jasa-jasanya dalam pengembangan kebinekaan dan solidaritas kebinekaan.
Dalam pidato ilmiahnya di hadapan rapat senat terbuka, istri Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menyampaikan mengenai sahur keliling. Sebagai sarana mencapai ketakwaan dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Sinta menceritakan, menjelang puasa tahun 2000, saat itu dia sedang berada di Istana Negara. Berbincang-bincang dengan beberapa staf pribadi, mengenai kegiatan apa yang hendak dilakukan pada bulan Raamadan.
Dia mendapatkan berbagai macam tawaran program oleh staf. Tetapi belum ada yang pas di hati. Salah seorang staf kemudian menawarkan kegiatan membagikan nasi untuk makan sahur kepada kaum dhuafa, kaum marjinal dan anak-anak jalanan, serta bersahur bersama mereka.
Saat itu, kata dia, tiba-tiba muncul bayangan di benaknya, mbok-mbok bakul yang pada pukul 03.00 pagi sudah harus berada di atas kendaraan bak terbuka. Berjuang mencari sesuap nasi untuk keluarganya. Juga kuli-kuli bangunan yang tidurnya di bawah kolong jembatan, atau tukang-tukang becak yang setiap malam harus tidur meringkuk di atas becaknya. “Tentu mereka tidak bisa makan sahur dengan baik bila ingin berpuasa,” katanya.
Dia lantas teringat sabda Nabi yang bunyinya, “Tidak beriman seseorang, jika ia tidur nyenyak karena kekenyangan, sementara tetangganya dibiarkan kelaparan”. Oleh karena itu, dia berpikir bisa membawakan sekotak nasi buat sahur mereka akan menyenangkan.
Kegiatan sahur keliling pun dilakukan. Sasaran kegiatan itu adalah kaum dhuafa, kaum marjinal, tukang becak, pengamen, pemulung dan sebagainya. Pelaksanaannya juga tidak di tempat yang mentereng dan terang benderang. Melainkan di tempat mereka berada, seperti di kolong jembatan, di dekat terminal atau stasiun, di tengah pasar, di lokasi bencana dan sebagainya.
“Tujuannya untuk mengajak mereka melaksanakan perintah Allah, menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan dengan sebaik-baiknya. Juga mengingatkan kepada mereka bahwa di bulan suci Ramadan, Allah melimpahkan rahmat, ampunan dan dijauhkan dari api neraka,” ujarnya.
Kegiatan itu terus berjalan, di bawah bendera Yayasan Puan Amal Hayati. Yakni sebuah yayasan yang didirikannya bersama teman-teman aktivis yang peduli pada nasib perempuan. Kegiatan itu sekarang tidak hanya dilakukan di Jakarta saja. Tetapi juga di kota-kota lain di Jawa dan juga luar Jawa.
Masyarakat, kata Sinta, menyambut acara ini dengan penuh semangat dan gembira. Kegiatan ini juga dilakukan di masjid-masjid, halaman klenteng, halaman gereja, kolong jembatan, di tengah pasar dan lain sebagainya. “Tidak hanya umat Islam saja, tetapi juga agama-agama yang lain,” katanya.
Sejujurnya, dia mengakui memberi sekotak nasi apalah artinya. Namun terbayang di matanya wajah-wajah keras kaum dhuafa itu menjadi sedikit cerah dan lembut ketika dia hadir di tengah-tengah mereka. Rakyat merasa diperhatikan dan ada yang menyapa. Mereka begitu gembira dan bahagia. “Hal itu membuat saya sering merasa terharu,” ucapnya.
Sinta Nuriyah mengakui jika dia tidak bisa memberi apa-apa. Yang bisa diberikannya hanya seulas senyum, pesan, nasehat dan doa. Agar kemiskinan, kesulitan dan tantangan hidup yang selama ini menghimpit mereka, tidak akan mematahkan semangat hidup, menggugurkan nilai kejujuran dan komitmen moral yang ada pada diri mereka.
Ketua Promotor Ema Marhumah menyampaikan dua sepak terjang promovenda yang membuat keputusan UIN Sunan Kalijaga tidak salah menganugerahinya gelar doktor kehormatan. Pertama, Nyai Sinta merupakan seorang aktivis yang sudah lama memperjuangkan hak-hak perempuan, pemberdayaan perempuan, dan advokasi terhadap perempuan korban kekerasan seksual.
“Kepedulian dan perjuangan beliau terhadap persoalan ini dapat dilihat dari gagasan atau pikiran progresif promovenda, yang dituangkan dalam bentuk tulisan baik di media massa ataupun buku. Juga yang disampaikan promoveda dalam berbagai forum dan kesempatan,” kata Ema.
Dia menjelaskan, perjuangan Sinta untuk hak-hak perempuan dilakukan melalui wacana pemikiran diskursif dengan kajian bersama para koleganya. Seperti KH Husein Muhammad dan KH Nasaruddin Umar.
Kedua, Sinta juga berjuang dengan aktivitas sosialnya. Yakni mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan konseling bagi para korban kekerasan. Selain perjuangannya bagi perempuan, Nyai Sinta juga berjuang untuk perdamaian dan pluralisme.
Menurut dia, ada hal menarik dan genuine dari perjuangan perempuan kelahiran Jombang, 8 Maret 1948 ini di bidang perdamaian dan pluralisme itu. Yakni bagaimana perempuan juga harus terlibat sebagai aktor yang secara aktif menciptakan kerja-kerja perdamaian antar agama, aliran kepercayaan, ras, etnis, dan golongan.
“Bagi promovenda, keberagaman merupakan sunnatullah, dan karena itu bersikap pluralis berarti sesuai dengan sunnatullah. Inilah esensi kehidupan di tengah keberagaman sebagai fakta kehidupan yang tak mungkin kita tolak,” kata Ema. (har/laz)