Radar Jogja – Perubahan iklim yang berisiko merugikan pertanian harus diantisipasi. Adanya jeda hujan belakangan ini disikapi Pemkab Gunungkidul dengan sejumlah langkah.

Melalui Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul terus melakukan pemetaan lokasi potensial sumur bur. Selanjutnya mengoneksikan dengan saluran irigasi.

“Hari ini (kemarin, Red) kami meresmikan bagunan sarana irigasi berupa sumur dalam di Dusun Banaran 2, Desa Banaran, Kecamatan Playen,” kata Kepala DPP Kabupaten Gunungkidul Bambang Wisnu Broto kemarin (17/12).

Dia menjelaskan, pengembangan irigasi air tanah merupakan antisipasi perubahan iklim yang berisiko merugikan pertanian. Seperti misalnya, terjadinya jeda hujan ataupun bencana kekeringan. “Harapan kami keberadaan sumur bor bisa menambah luasan tanam berbagai tanaman pertanian selepas musim tanam pertama,” ujarnya.

Pihaknya juga mengimbau kepada warga supaya membentuk pengelola pemakai air (P3A) supaya ke depan bisa dikelola dengan baik. Dengan begitu, gagal panen sebagai dampak dari cuaca ekstrem yang melanda dapat diminimalisasi.

Sementara itu, warga Desa Putat, Kecamatan Patuk, Waluyo berharap mendapatkan bantuan sumur bur. Di wilayahnya, cuaca tak menentu seperti sekarang sangat berpengaruh terhadap hasil produksi pertanian. “Caranya bagaimana agar kami bisa mendapatkan bantuan sumur bur,” kata Waluyo.

Menurut dia, keberadaan sumur bur sangat bermanfaat bagi petani, terutama pada saat musim kemarau. Pada musim penghujan seperti sekarang sekalipun sangat dibutuhkan lantaran intensitas hujan tidak maksimal. (gun/din)