RADAR JOGJA – Makanan tradisional yang tidak berpengawet dengan proses pembuatan alami, jelas memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan  makanan saat ini yang memiliki kandungan gula tinggi. Seiring berjalannya waktu, makanan tradisional mulai tersingkir dengan munculnya makanan baru yang hanya menjual rasa dan kemasan tanpa mempertimbangkan kandungan gizi  di dalamnya.

Pakar Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM Lily Arsanti Lestari menjelaskan, dari data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi jumlah penderita diabetes melitus (DM) meningkat. Salah satu penyebabnya adalah pola makan masyarakat yang berubah. Selain itu  konsumsi makanan dengan kadar gula yang tinggi.

Hal ini sangatlah berbeda dengan kandungan gizi yang ada pada makanan tradisional. Seperti pada gatot, tiwul dan growol yang memiliki kandungan karbohidrat kompleks. Memiliki kadar gula yang rendah, makanan tradisional itu tidak akan meningkatkan respons gula dalam darah. “Sehingga cocok untuk orang yang menderita DM, sedangkan makanan kekinian dengan kandungan gula tinggi akan berisiko menimbulkan diabetes sejak dini,” jelas Lily Sabtu (14/12).

Jika dilihat dari kandungan gizi, tambah Lily, hal ini kembali pada bahan dasar dan tambahan yang digunakan untuk membuat makanan tradisional. Seperti halnya pada growol yang telah ditelilti oleh Lily, memiliki probiotik dan prebiotik yang bisa menurunkan risiko terkena diare.

Untuk mempertahankan eksistensi makanan tradisional, baik pemerintah maupun pelaku usaha, harus mengikuti perkembangan zaman. Mulai dari penjualan yang bisa dilakukan secara online dan bekerjasama dengan penyedia jasa layanan antar oleh perusahaan startup.

Tidak hanya cara penjualan, pelaku usaha juga harus memperhatikan pengolahan produk untuk bisa bertahan lebih lama. Misalnya dengan cara dikeringkan atau pembekuan, mengingat bahan yang digunakan untuk makanan tradisional tidak ditambahkan dengan bahan pengawet.

“Jelas hal ini tidak akan mengurangi gizi yang dikandung, namun ini adalah cara agar masyarakat yang malas untuk membuat makanan tradisional bisa menikmati dengan mudah,” tambah Lily.

Meskipun di generasi orang tua makanan tradisional masih eksis,  tidak demikian di kalangan anak muda. Oleh karena itu, penting untuk memasukkan makanan tradisional di dalam kurikulum. Selama ini, hanya pendidikan gizi yang masih diterapkan pada tingkat pendidikan sekolah. Mulai dari pengetahuan makanan bergizi, pengawet yang berbahaya, sampai  keamanan pangan. “Dan belum ada untuk makanan tradisional. Hal ini bisa dikupas terkait kandungan gizi, sampai dengan manfaatkan kesehatannya,” tuturnya.

Sementara itu, dosen Prodi Ilmu Gizi Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) Devillya Puspita Dewi menjelaskan, dilihat dari kandungan gizi, jajanan tradisional lebih aman dibandingkan jajanan kekinian karena bahan tambahan pangan (BTP) yang digunakan cenderung menggunakan bahan alami. Jika dilihat lebih teliti, jajanan sekarang cenderung menggunakan BTP jenis pengawet, penyedap dan pemanis. Jika dikonsumsi secara terus-menerus akan membahayakan kesehatan konsumen.

“Memang jajanan kekinian sangat menarik bagi anak-anak dan remaja dengan warna yang menarik, rasa yang beraneka ragam, dan aroma yang sangat sensasional,” jelas Devi.

Namun, tidak semua jajanan kekinian tidak mengandung zat gizi yang dibutuhkan. Perlu diperhatikan, pembatasan konsumsi makanan dengan BTP sintetis untuk menghindarkan konsumen dari berbagai macam penyakit yang tidak menular. Seperti hipertensi, jantung, diabetes mellitus, bahkan stroke.

Selain itu, untuk konsumsinya, bagi orang yang memiliki status gizi normal juga harus dibatasi. Karena kandungan gizi yang tidak lengkap, kandungan energi tinggi dan tinggi lemak akan berisiko pada obesitas.

Oleh karena itu, untuk mengganti jajanan yang memang dikonsumsi setiap hari, Devi menyarankan untuk mengganti dengan makanan yang lebih sehat. Meskipun tergolong sehat, jajanan tradisional yang kini sudah mulai sulit ditemui, juga tidak menarik minat para pembeli.

Hal ini menjadi pekerjaan yang harus dipikirkan oleh pedagang dan pemerintah untuk tetap membudayakan masyarakat dengan mengkonsumsi makanan tradisional. Jangan hanya makanan tradisional ada saat di acara-acara tertentu yang diadakan oleh pemerintah.

“Bagi pedagang, harus tetap mempromosikan makanan tradisional yang memang lebih bergizi dan tentu tak kalah enak dibandingkan makanan kekinian. Dan yang paling penting adalah pengemasan dan penyajiannya, menginagat jajanan tradisional banyak yang berupa makanan basah sehingga mudah mengalami kerusakan dan kadaluwarsa,” tambah Devi.

Devi mengingatkan, meskipun kandungan gizi lebih terjamin dibandingkan makanan kekinian, konsumsi jajanan tradisional sebaiknya juga dibatasi dengan minimal satu hari memakan jajanan sebanyak satu porsi. Setelah itu, haruslah diimbangi dengan makanan yang mengandung zat gizi lain yang dibutuhkan oleh tubuh.

“Seperti saat makan tiwul yang tinggi karbohidrat, haruslah dilengkapi dengan asupan tempe bacem yang mengandung protein. Serta konsumsi sayur dan buah untuk tetap menjaga vitamin dan mineral dalam tubuh,” tuturnya. (eno/laz)