RADAR JOGJA – Adrem merupakan makanan tradisional asli Bantul. Terbuat dari tepung beras yang dicampur parutan kelapa dan gula Jawa. Makanan ini cukup dikenal, selain rasanya yang khas juga namanya yang terbilang unik. Adrem kerap disebut tholpit atau singkatan dari….(maaf tidak bisa kami sebutkan karena terlalu vulgar).

Cukup menggelikan memang, namun sebutan itu sudah melekat bagi masyarakat sekitar. “Bahkan sejak leluhur dulu udah menyebut itu,”  ungkap Prapto, 55, warga Srigading, Sanden, yang mengaku penggemar adrem saat ditemui Radar Jogja, Sabtu (14/12).

Dia mengaku sering memesan makanan itu saat keluarganya memiliki hajad. Misalnya menjadi menu saat arisan keluarga.  “Ya, kalau pesannya kalau tidak di Kretek, ya di Sanden,” tuturnya. Dikatakan, istilah tholpit itu karena bentuknya yang menyerupai kelamin pria. Dan dalam proses pembuatannya dilakukan dengan cara dijepit menggunakan bilahan bambu.

Mardinem, 64, dan Mujinah, 66, merupakan pembuat adrem yang hingga kini masih bertahan. Mereka adalah warga Padukuhan Ngunan- unan, Desa Srigading, Sanden. Mereka sudah belasan tahun membuat adrem.

“Kalau dulu dijual sendiri di pasar, kalau sekarang sudah diambil bakul dan lebih banyak pesanan,” ungkap Mardinem. Ia sudah menekuni usaha adrem ini sejak 1979 atau selepas lulus SMP.

Kendati begitu, membuat adrem sekarang lebih mudah dibandingkan saat itu. Sekarang tidak perlu menumbuk beras untuk bisa menghasilkan tepung. Dan tidak harus memarut kelapa untuk menghasilkan bahan adonan.  “Kini tinggal digiling pakai mesin penggilingan. Kalau sini gilingnya dekat Pasar Celep,” katanya.

Senada disampaikan Mujinah, 66. Peminat adrem menurun. Saat ini hanya mengandalkan pesanan. Tidak setiap hari dia membuat adrem. “Biasanya untuk pengajian, acara keluarga, kadang juga diambil pedagang pasar. Ya, siapa saja yang mau pesan dibuatkan. Kalau mau jadi, ya nggak ada,” ungkapnya.

Meski berbagai bahan makanan mudah didapatkan secara instan, dia mengaku tetap menjaga kemurniannya. Perempuan yang kerap disapa Muji ini punya cara tersendiri agar adrem tahan hingga dua minggu.

“Caranya saat membuat adonan, tepung beras, gula Jawa yang disisir dan parutan kelapa, tidak ditambahkan air. Lalu adonan didiamkan  semalam,” ungkapnya. Menurutnya, semakin rendah air, adrem semakin awet alias tidak mudah busuk dan berjamur.

Keunikannya lagi, hingga kini dia masih menggunakan alat yang sama. Misalnya capitan bambu yang dia buat dari rincikan bambu petung. “Ini rahasianya, agar bentuknya tetap bagus. Capit ini sudah 10 tahun,” ungkap Suami Muji sembari menunjukkan alat pencepit adonan adrem atau tholpit. (mel/laz)