RADAR JOGJA – Sampai saat ini perempuan dan  anak-anak masih rawan mengalami kekerasan. Kurangnya respons cepat terhadap kedaruratan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masih lemahnya partisipasi masyarakat dalam menanggapi masalah, membuat Indonesia masuk dalam 10 negara paling tidak aman bagi perempuan, atau tertinggi kedua di Asia Pasifik setelah India.

Direktur Eksekutif Yayasan Sebar Inspirasi Indonesia (YSII) Atika menjelaskan, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak dari data Komnas Perempuan mengalami kenaikan sebanyak 14 persen dari tahun 2018. Tahun 2019 ini ditemukan  406.178 kasus kekerasan. Sementara dari hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) tahun 2016, menunjukkan satu dari tiga perempuan usia produktif mengalami kekerasan fisik dan atau seksual oleh pasangan atau selain pasangan sepanjang hidupnya.

Meskipun telah terbangun mekanisme layanan untuk perempuan dan anak korban kekerasan, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun oleh lembaga swadaya masyarakat, jumlah ketersediaan lembaga layanan dan tenaga pendamping atau penerima aduan tidak sebanding dengan kasus yang terjadi.

“Oleh karena itu masyarakat sangat dibutuhkan untuk membantu korban dan mendukung upaya korban mendapatkan keadilan,” jelas Tika saat peluncuran aplikasi Mobile Wonder Indonesia di Grha Sabha Pramana  UGM, Jumat (13/12).

Mengikuti perkembangan teknologi informasi, tambah Tika, pihaknya telah mengembangkan mekanisme pengaduan kedaruratan dan pendampingan melakui aplikasi mobile atau on line Wonder Indonesia. Perangkat itu menjadi pertolongan kedaruratan serta pencegahan perempuan dan anak dari kekerasan.

Aplikasi Mobile Wonder akan berfungsi mensinergikan berbagai potensi yang dimiliki stakeholder perlindungan perempuan dan anak. Serta menggalang partisipasi masyarakat untuk dapat memberikan kemudahan korban dalam mendapatkan pertolongan, sampai dengan konseling. “Melalui aplikasi ini akan tercipta semesta gerakan perlindungan dan anak dengan menjadikan kasus sebagian dari bencana kemanusiaan,” katanya.

Tika menambahkan, Wonder dilengkapi fitur-fitur yang memberikan kemudahan terhadap korban untuk mengakses pertolongan, mencari suaka, dan memperoleh pendampingan langsung dari relawan terdaftar secara instan. Selain itu, bersama  komisi nasional anti kekerasan terhadap perempuan, YSII juga mengembangkan sistem rujukan dalam aplikasi. Sesuai jenis respons relawan bagi korban, serta prosedur standar yang melindungi korban maupun relawan.

Chief Executive Officer PT Privy Identitas Digital (ID) Marshall Pribadi menuturkan, pengembangan aplikasi didukung dengan sistem verifikasi identitas secara digital. Hal ini dilakukan untuk melidungi korban maupun relawan dari tindakan pemalsuan identitas atau laporan fiktif terkait kekerasan. “Memastikan data yang diberikan pengguna aplikasi sesuai dengan data kependudukan resmi,” tutur Marshall. (eno/laz)