RADAR JOGJA – Memasuki musim hujan, koordinasi serta komunikasi menjadi kunci mitigasi bencana hidrometeorologi. Jangan sampai koordinasi dan komunikasi buruk dalam upaya penanggulangan bencana.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto meminta perangkat desa setingkat lurah aktif mengabarkan potensi bencana di wilayahnya. Sehingga BPBD bisa segera melakukan penanganan bencana dan evakuasi jika wilayah tersebut mengalami bencana.

Menghadapi potensi bencana selama musim hujan, BPBD Bantul telah membentuk 20 pos pantau. Semuanya berada di wilayah rawan bencana.

Dengan adanya pos pantau, koordinasi antarwilayah bisa maksimal. Sehingga dampak bencana bisa diminimalisasi, dan proses evakuasi bisa cepat.

‘’Pada musim pancaroba sekarang, potensi bencana tinggi. Kami sudah berkoordinasi dengan seluruh lurah di Bantul,’’ ujar Dwi.

Bencana banjir perlu diwaspadai. Apalagi, letak Bantul berada di daerah hilir, daerah rendah. Bencana angin kencang juga masih menjadi ancaman.

Masyarakat diminta melakukan pencegahan bencana angin kencang. Yakni memangkas dahan pohon yang rimbun dan berukuran besar. “Terutama pohon di sekitar pemukiman,” kata Dwi.

Meskipun potensi bencana musim hujan tinggi, masyarakat diminta memanfaatkan air hujan sebaik-baiknya. Termasuk menampung air hujan agar bisa digunakan ketika kemarau.

‘’Pemanfaatan air hujan harus dilakukan. Hal itu berkaca dari bencana kekeringan yang melanda sebagian wilayah Bantul,’’ ujar Dwi.

BPBD Bantul telah mengembangkan alat pemanen air hujan. Berupa bak penampung air berkapasitas 10 ribu liter. Dilengkapi teknologi pengolah air agar jernih dan layak konsumsi.

‘’Kami pasang di Piyungan, Dlingo, dan Imogiri. Merupakan daerah paling sering terdampak kekeringan,” ungkap ungkap Dwi. (inu/iwa/zl)