RADAR JOGJA – Wabah demam berdarah dengue (DBD) di Gunungkidul meningkat lebih dari 100 persen dibanding tahun sebelumnya. Kasus terbanyak di Kecamatan Wonosari.

Data Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari menyebutkan, korban nyamuk Aedes aegypti pembawa virus DBD tahun ini mengalami peningkatan tajam.

Januari tercatat 30 kasus DBD, Februari 26 kasus, Maret 29 kasus, April 13 kasus, Mei 37 kasus, Juni 11 kasus, Juli 40 kasus, Agustus 44 kasus. September 61 kasus, Oktober 11 kasus, November 37 kasus, dan Desember 24 kasus.

“Yang dirawat di RSUD Wonosari tidak ada yang meninggal. Data tersebut sudah kami sampaikan kepada Dinkes (Dinas Kesehatan) Gunungkidul,” kata Direktur Utama RSUD Wonosari Heru Sulistyowati (13/12).

Dia menjelaskan, jumlah pasien DBD di RSUD Wonosari terdiri dari anak dan dewasa. Heru memastikan semua pasien DBD tertangani dengan baik. Sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan.

Kasus DBD tahun ini mengalami peningkatan tajam. Pada 2018 hanya 124 kasus. Tahun ini mencapai 363 kasus.

Kasus DB tahun ini tidak biasa. Karena pada saat kemarau justru mengalami peningkatan kasus. Sebaran DBD mengalami perubahan.

Puncak kasus DBD pada Februari 2019 di Karangmojo. Maret di Ponjong, April-Mei di Wonosari. Kecamatan Wonosari tertinggi, dengan 70 kasus DBD.

Untuk Wonosari, lokasi pasien mengalami pergeseran dari tengah ke utara dan selatan. Lonjakan DBD di musim kemarau perlu diwaspadai.

Munculnya kasus DBD di musim kemarau terjadi lantaran masih ada genangan air meskipun sedikit. Oleh sebab itu, kata kunci untuk melakukan pencegahan adalah dengan menerapkan pola hidup bersih.

Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan penanganan DBD cukup hati-hati. Misalnya, tidak sembarangan melakukan foging atau pengasapan. Jika positif terkena DBD, dalam 24 jam harus dilaporkan ke dinkes.

“Tim dinkes dan puskesmas akan melakukan PE (penyelidikan epidemiologi). Mengunjungi rumah penderita untuk menilai lingkungannya. Jika ada indikasi penularan maka difoging. Jika tidak, dilakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk),” kata Dewi.

Diagnosa DBD harus dilakukan oleh dokter disertai surat kewaspadaan dini rumah sakit (KDRS). Tidak bisa warga serta merta minta foging tanpa diagnosa DBD. Pengasapan yang tidak terkendali merugikan akan masyarakat.

“Kami meminta masyarakat tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan menguras wadah-wadah air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,” kata Dewi.

Menutup rapat semua wadah air agar nyamuk tak dapat masuk dan berkembang biak. Mengubur wadah bekas yang berpotensi jadi sarang nyamuk. Memantau sarang nyamuk yang berkembang.

“PSN harus dilakukan serentak dan berkala. Diharap segera memeriksakan diri jika sakit, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” ujar Dewi. (gun/iwa/zl)