RADAR JOGJA – Pembangunan proyek strategis basional (PSN) Bendungan Bener, Purworejo, diharapkan dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Hal terkecil pun harus dilaksanakan untuk meminimalkan dampak sosial di tengah masyarakat.

Wakil Ketua Komisi II  DPRD Purworejo Rokhman melihat ada beberapa hal yang muncul belakangan dan memunculkan keresahan di tengah masyarakat. “Proses pembangunan yang berjalan jangan sampai membuat masyarakat takut,” katanya Jumat (13/12).

Ungkapan yang dilontarkan itu amat beralasan karena pihaknya mendapat laporan jika masyarakat di Desa Guntur, Kecamatan Bener, belakangan ini tidak berani turun di lahan yang dimiliki. Padahal lahan yang ada tidak terdampak proses pembangunan Bendungan Bener. “Warga ini adalah mereka yang lahannya tidak digunakan oleh proyek pembangunan. Tapi berdekatan,”  tambah Rokhman.

Ada dampak yang ditimbulkan dari kegiatan itu, namun masyarakat tidak mendapatkan sosialisasi atau kompensasi. Dengan topografi wilayah berupa perbukitan, menggarap lahan sendiri sementara ada pekerjaan proyek, amat berisiko bagi warga.

“Warga takut saat mereka melakukan aktivitas, tiba-tiba muncul semacam batuan atau apa yang turun. Selain itu, dari tanah yang dibuka sebagian dibuang ke lahan yang tidak digunakan atau tidak disewa,” tambahnya.

Rokhman menyebut seharusnya sosialisasi harus dilakukan secara menyeluruh, tidak saja bagi warga yang lahannya digunakan. Namun juga warga yang memiliki lahan di seputar tanah yang dipakai. “Kemarin saat ada ramai-ramai peledakan batu atau blasting, kami mendapat laporan jika tidak ada pemberitahuan kepada warga,” katanya.

Peledakan batu, lanjutnya, jelas sangat berbahaya karena efek dari serpihan batu yang meledak bisa cukup jauh. Selain itu juga bisa memicu terjadinya longsoran lahan pertanian.

“Di situlah ketakutan warga itu timbul. Penutupan jalan juga membuat warga tidak berani mendekat ke lahan yang dimiliki,” ungkap politisi Partai Golkar ini. (udi/laz)