RADAR JOGJA Gelaran SEA Games 2019  telah berakhir 12 Desember lalu. Ajang multievent se-Asia Tenggara itu memberikan kesan tersendiri, juga pengalaman berharga bagi atlet atletik asal Gunungkidul Bayu Prasetyo.

DALAM ajang SEA Games Manila, Filipina 2019, kontingen Indonesia menurunkan dua atletnya dalam cabang olahraga (cabor) atletik kategori jalan cepat. Mereka adalah Bayu Prasetyo dan Hendro Yap. Keduanya turun di nomor 2.000 meter.

Namun demikian, di ajang dua tahunan itu Bayu hanya berhasil finis di urutan kelima. Dia mencatatkan waktu 1 jam 38 menit 21 detik. Emas pun direbut kompatriot sekaligus seniornya sendiri,  Hendra Yap yang menjadi terdepan dengan mencatatkan waktu 1 jam 31 menit 20 detik.

Kendati tak berhasil mempersembahkan medali untuk Merah Putih, Bayu mengaku cukup puas dan bangga lantaran ini merupakan SEA Games pertamanya. Jika dilihat dari hasil, pencapaian yang diraih Bayu juga tak terlalu buruk. Pasalnya, dalam ajang Asian Games tahun lalu ia hanya menempati peringkat kedelapan dengan catatan waktu 1 jam 42 menit 35 detik. Artinya ada peningkatan dari segi catatan waktu.

Dikatakan Bayu, pengalaman di ajang SEA Games kali ini memberikan banyak pelajaran. Terlebih lagi metode latihan yang diberikan pelatih diakui atlet berusia 21 ini sangat jitu. “Dari persiapan hingga pertandingan saya banyak sekali mendapatkan ilmu baru,”  ungkapnya.

Selain itu, hal lain yang membuatnya sangat bangga yakni ketika dia sukses memberikan perlawanan sengit kepada atlet‐atlet senior yang memang sudah menjadi langganan SEA Games. Salah satunya berhasil leading atas atlet Vietnam dan Malaysia. “Apalagi kedua atlet ini sering mendapatkan medali,” katanya.

Menurut Bayu, kegagalan meraih medali juga tak terlepas dari beberapa kendala saat pertandingan berlangsung. Atlet asal Logandeng, Playen, Gunungkidul, itu menceritakan menjelang hari pertandingan, dari awal kedatangan hingga hari perlombaan, ia kesulitan menjajal medan perlombaan karena belum ada kepastian rute lomba dari panitia. Sehingga sedikit membuat dia kesulitan menghafal rute perlombaan.

Di sisi lain ajang SEA Games kemarin terdapat dua kekuatan baru dari negara Myanmar. Hal tersebut diakuinya cukup memengaruhi strategi yang diberikan tim pelatih. “Sehingga saya finis di urutan ke lima karena kemampuan lawan belum terbaca,” bebernya.

Untuk ke depan, Bayu berjanji akan berusaha lebih keras dan cerdas lagi agar dapat memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Nah, selama 11 bulan ke depan atlet yang tengah mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan pendidikan kepelatihan olahraga itu bakal fokus mempersiapkan diri untuk berlaga di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2020. “Ya, hanya akan fokus mengikuti satu event nasional sebagai peak sasaran performa di PON nanti,” katanya. (laz)