Radar Jogja – Seiring pembangunan tol Jogja -Solo, perlindungan kawasan di Sleman timur diperlukan. Saat ini, tengah digodok Perda Percepatan Rencana Detail Tata Ruang Wilah kawasan Sleman Timur.
Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispetaru) DIJ Krido Suprayitno menjelaskan, perda tersebut tengah dibahas di legislatif Kabupaten Sleman. Dalam Raperda tersebut mengatur tentang detail penataan kawasan Sleman Timur saat dibangunnya tol. “Perda itu guna antisipasi perubahan selama 10 hingga 20 tahun mendatang,” jelasnya.
Menurut dia, keberadaan tol dipastikan membawa dampak cukup signifikan bagi perkembangan DIJ. Di Sleman timur, akan terjadi kawasan tumbuh cepat. Harapannya, kawasan tumbuh cepat tidak mengubah ekosistem yang ada di Sleman timur. Salah satunya kawasan pertanian. “Olehkarenanya Perda Percepatan RDTRW Sleman timur harus sesuai dengan Perda RTRW yang dimiliki DIJ,” tuturnya.
Untuk pemetaan kawasan tumbuh cepat, pihaknya menunggu arahan dari Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Pihaknya pun akan mengantisipasi adanya dampak penetrasi jalan tol masuk ke DIJ. Tidak hanya bagi kawasan Sleman, tetapi juga wilayah lain seperti Bantul, Kota Jogja dan Kulonprogo. “Kami punya koridor KPY (kawasan perkotaan Yogyakarta) dan algomerasi,” jelasnya.
Seperti diketahui ruas tol Jogja-Solo akan menjadi etape pertama yang akan digarap. Tercatat terdapat enam kecamatan dan 14 desa yang akan dilalui tol dengan luasan lahan mencapai 1,74 juta meter persegi.Sosialisasi pertama telah dilakukan di Bukoharjo, Prambanan. Pada Desember ini, pemprov menargetkan sosialisai dilakukan di Kecamatan Kalasan. “Kalasan menjadi salah satu kecamatan yang cukup banyak perdukuhannya dilalui tol. Target kami Desember ini segera di rampungkan,” tuturnya. (bhn)